Bukan Spam – Namun Tetap Tidak Diloloskan

Jika sebuah komentar tidak diloloskan atau tidak ditampilkan, pertama-tama salahkanlah mesin antispamnya – merekalah yang bertanggung jawab dalam baris terdepan menyambut setiap tanggapan pada sebuah blog. Saya menggunakan Akismet dan Antispam Bee yang menghasilkan “zero spam penetration“, yang bermakna saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan spam. Meskipun pada sisi lainnya banyak tanggapan yang bukan spam juga “dibunuh” tanpa bertanya lebih dulu. Karena menurut Google, spam merupakan:

Abusing comment fields of innocent sites is a bad and risky way of getting links to your site. If you choose to do so, you are tarnishing other people’s hard work and lowering the quality of the web, transforming a potentially good resource of additional information into a list of nonsense keywords.

Namun bukan berarti semuanya berjalan lancar, ada beberapa tanggapan/komentar yang baru pertama kali masuk dan harus dipilah terlebih dahulu – karena berada pada jalur moderasi. Biasanya tanggapan ini bukan merupakan spam, karena mungkin hanya 1 dari 10.000 spam yang bisa lolos dari kombinasi dua mesin antispam tersebut. Continue reading

Apakah Disqus Menahan Spam Sepenuhnya?

Salah satu alasan utama saya memasang sistem komentar Disqus adalah guna menghindari spam yang bertebaran di dunia maya. Tapi apapun mekanisme yang diterapkan, rasanya tidak ada yang 100% sempurna, selama borang tanggapan masih dibuka, spam bisa selalu muncul. Termasuk ketika menggunakan Disqus.

Di beberapa blog lain yang menggunakan Disqus, saya memperketat aturan berkomentarnya, seperti mesti memiliki akun Disqus yang terverifikasi. Namun tidak untuk blog ini, bahkan OpenID-pun masih diizinkan – semisal pemberi tanggapan tidak ingin memublikasikan alamat surelnya bahkan pada admin blog, hanya saja ini membuka peluang lebih besar untuk masuknya spam.

Continue reading

Menghalangi Pengomentar?

Penerapan Antispam Bee kemarin saya mendapatkan banyak keluhan, apakah komentar atau tanggapan seseorang di blok? Padahal sebenarnya saya sudah menulis tentang hal ini di halaman bantuan, he he, sepertinya malah tidak ada yang membaca.

Apakah saya menghalangi seorang pengomentar? Secara umum jawabnya ‘TIDAK!’ – kalau sekadar menyulitkan, mungkin ya? Kadang saya memasang CAPTCHA jika sedang musim spam – misalnya. Kalau untuk narablog tertentu, secara spesifik, ‘YA’ saya menghalangi!

Misalnya mencegahnya memberikan komentar dengan memblok alamat IP, alamat surel, hingga memblok akun jejaring sosialnya di sistem komentar DISQUS. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya dalam ‘Tak Usah Memaksa Kunjungan Balik’, semua alasannya serupa.

Jika begitu inginnya mendapatkan backlink dari situs tidak berguna ini, silakan menyimak tulisan ‘Halaman Pranala Keluar’. Ingat, kemudahan aksesibilitas web juga memiliki unsur ‘menjunjung etika’.

Hmm…, setelah saya pikir-pikir, kok jadi menulis seperti ini ya (bengong sendiri).

Komentar Blog Yang Berat Diloloskan

Sebagai narablog berarti juga menjadi administrator sebuah atau lebih blog. Dan salah satu yang dikerjakan administrator atau admin blog adalah mengelola sistem komentar. Sebuah sistem komunikasi antara narablog dengan pengunjung atau pun narablog lain serta bisa juga antara sesama pengunjung. Dari berbagai tipe admin blog, saya mengenal ada yang baik hati dan sangat liberal dengan sistem blog mereka seperti Bli Wira dan Bli Pande, ada juga yang menggunakan moderasi penuh seperti Bli Andi Arsana dan Dokter Putri. Kalau saya mungkin masuk yang biasa-biasa saja.

Namun demikian, saya tetap mengontrol sistem komentar saya, sebagaimana ketentuan yang saya munculkan dalam “disclaimer”.

Continue reading