Berdirilah Seperti Gunung

Dalam setiap langkah kehidupan, manusia bisa menjadi bimbang, dan kebimbangan adalah bayangan yang selalu menghantui bagaimana seseorang berdiri menghadapi kehidupan.

Berdirilah seperti gunung, dingin yang menghembus kencang diterima dengan terbuka, demikian juga hangat yang sekejap berubah menjadi panas. Tetap bergeming ketika musim-musim berubah, manusia yang memiliki pendirian mungkin tidak akan ditatap oleh dunia, namun manusia tidak memilih berdiri tegap karena ingin dilihat oleh dunia.

Berterima kasih pada apa yang telah mengelilingnya, baik yang mengikis maupun menambahkan kehidupannya, dan semua itu adalah sahabat dalam perjalanan sang waktu.

Suatu saat jika berjodoh, musim mungkin akan menumbuhkan bunga lili yang indah di tebing-tebing curammu, meskipun hanya setangkai. Langit mungkin menyibakkan malam dan menghadirkan hujan bintang yang tak satupun jatuh ke pangkuanmu. Karena kamu berdiri seperti gunung, kamu akan melihat apa yang tidak pernah disaksikan oleh mereka yang berlari kian kemari dalam kebimbangan.

Dokter, Hukum, dan Penjara

Saya percaya, setiap warga negara sama kedudukan di mata hukum, termasuk di dalamnya profesi dokter. Namun kasus baru di Manado yang muncul ke permukaan tentang seorang dokter kandungan & kebidanan yang menjalani vonis Mahkamah Agung berupa kurungan/penjara selama sepuluh bulan menjadi tanda tanya besar atas apa yang saya percayai.

Jika seorang dokter terbukti lalai, dia berhak diberikan sanksi atas kelailaiannya. Jika ia melakukan kejahatan kemanusiaan, seperti aborsi tanpa indikasi medis, maka hukum mesti bertindak dan dijatuhkan hukuman yang nyata. Tapi ketika prosedur berjalan dengan sesuai dengan standar, dan ada kondisi yang tidak dikehendaki terjadi, apa ini merupakan sebuah kesalahan yang mesti berada dalam ranah hukum? Continue reading

Homoseksualitas Bukanlah Sebuah Topik yang Ringan

Berbicara masalah homoseksualitas bukanlah kompetensi yang saya kuasai. Namun tidak jarang saya dibuat ikut berada dalam topik-topik pembicaraan tersebut. Yang sering membuat saya heran adalah, banyak pihak yang sering menggampangkan masalah ini, padahal menurut saya – ini bukanlah masalah yang ringan yang bisa dilakukan justifikasi sebelah mata.

Berbicara masalah homoseksualitas, saya rasa kita harus mulai dari berbicara tentang gender. Kita sering mendengar tentang gender, namun tidak banyak yang paham bahwa identitas gender adalah persepsi di dalam diri seseorang tentang apakah dia seorang pria atau wanita. Mungkin yang ahli psikologi dapat menjelaskan bagaimana psikologi ego telah memantapkan gender ini pada seseorang ketika ia berusia 2,5 tahun. Continue reading

Di Tepian Jalan

Dalam rialk-riak kecil kehidupan, setiap insan memiliki tujuan dan tempat yang hendak dicapainya, hanya sedikit yang cuma singgah di kehidupan ini dan berjalan seadanya menyusuri keindahan riaknya (ya, saya boleh dihitung sebagai salah satunya). Bergeming menyeruput secangkir kehidupan dengan memandang gelagat awan-awan sore yang menggantung untuk menghilang sepertinya tak pernah akan menjadi sesuatu yang membosankan.

Terkadang saya sendiri merasa terlalu menikmati kehidupan secara ala kadarnya ini, sehingga banyak hal yang menjadi kontras bahkan paradoks terhadap dinamika kehidupan secara umumnya.

Continue reading

Si Vis Pacem, Para Bellum

Dalam bahasa latin, ungkapan “si vis pacem, para bellum” bermakna “jika kamu menghendaki perdamaian, maka bersiaplah untuk berperang”. Salah satu slogan yang cukup terkenal dan dipakai serta dimodifikasi oleh banyak pihak lainnya, termasuk pada era Napoleon Bonaparte hingga ke perang dunia II.

Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa subjek yang memiliki kekuatan lebih, dan memiliki persiapan untuk bisa berperang akan memiliki kencenderungan yang lebih sedikit diserang oleh subjek lainnya. Seperti singa di belantara Afrika, hewan mana yang cukup berani mengganggu kedamaian mereka.

Continue reading