Skip to content

Tag: perjalanan

Liburan ke Pantai Pendaratan Penyu Sukamade

The landing turtle beach – Sukamade, merupakan salah satu yang akan menjadi berlian dari three diamonds yang dimiliki Provinsi Jawa Timur di samping Bromo dan Plengkung. Sukamade menjadi sebuah ekowisata yang menarik, karena di dunia tidak banyak pantai pendaratan penyu yang memiliki spesies penyu yang cukup banyak, baik yang asli maupun “tamu”.

Masih dalam bagian Taman Nasional Meru Betiri, maka untuk mencapai Sukamade dari sewaktu saya masih di Banyuwangi tetap melewati jalur yang juga mengantarkan kami ke Pantai Teluk Hijau (Green Bay). Saya kira tidak sempat mengunjungi pantai Sukamade ini, tapi berkat dr, Laili dan famili, saya bersama dr. Dina & dr. Irma bisa menikmati liburan di sini. Continue reading Liburan ke Pantai Pendaratan Penyu Sukamade

Wisata Alam Air Terjun Lider

Banyuwangi saya rasa memiliki banyak potensi alam yang baik untuk dijadikan objek wisata, hanya saja belum tergarap secara baik. Salah satunya adalah air terjun Lider terletak di sisi Timur lereng Gunung Rawung. Tempat ini saya kunjungi pada hari libur minggu yang lalu bersama beberapa rekan lainnya. Perjalan menuju ke Lider memang tidak mudah bagi kebanyakan orang, karena hutan alam yang masih mengelilinginya, meskipun dibatasi oleh lokasi perkebunan yang luas. Tidak heran bahkan di hari Libur pun tidak banyak yang berkunjung.

Perjalanan saya dari Kecamatan Genteng, melewati Kecamatan Sempu ke Kecamatan Songgon di Desa Sragi, mungkin masuk sejenis “pedukuhan” Lider (sesuai nama petak perkebunan). Dan akses jalannya sama sekali tidak bersahabat, sepeda motor saya yang berusia 12 tahun memang tidak terlalu kesulitan, kebetulan karena saya tidak berboncengan, tapi bagi mereka yang berboncengan apalagi menggunakan kendaraan tipe matic, sebaiknya pikir-pikir kembali. Continue reading Wisata Alam Air Terjun Lider

Lagi-Lagi Pulang Dengan Bus

Untuk menghadiri perjamuan pesta rakyat di kampung halaman, dan sebagai warga negara yang baik, saya pun memilih izin sejenak dan melaksanakan kewajiban saya pulang. Dan disebabkan oleh kelelahan yang menumpuk, kali ini saya tidak ingin menggunakan sepeda motor untuk menempuh jarak 200 Km.

Pengalaman sebelumnya mengajarkan, saya sebaiknya menghindari bus biasa – karena tidak kuat dengan asap rokok yang menghiasi setiap sudut pandang. Saya sebenarnya ingin mencoba bus DAMRI, tapi apa boleh buat yang lewat justru PO Ak*s As*i, karena tidak ingin terlalu malam tiba di rumah, nekat pun menjelma memasuki lorong kecil di antara tempat duduk yang mendingin dan berhimpitan. Continue reading Lagi-Lagi Pulang Dengan Bus

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close