Kekesalan dan Pesan Singkat

Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan negeri ini, mungkin karena saya tipe orang yang old fashioned – jadi tidak dapat menyerap perkembangan zaman dengan baik. Sekarang makin banyak saja pengiriman pesan singkat (sms) yang semakin disingkat, dipenggal dan dipendekkan seenaknya.

Apa orang begitu sibuknya sampai harus menyingkat nyaris semua katanya dalam layanan pesan singkat? Atau tidak ingin buang-buang waktu dengan menulis panjang lebar, dan biarkan saja yang membaca menyelesaikan pembacaan lanjutannya?

Saya bukan penerjemah yang baik, yang bukan ahli membuka enkripsi sebuah pesan. Jadi jika semua kata disingkat dan dipadatkan, jangan harap saya akan membaca pesan itu, bisa-bisa saya hapus langsung dari ponsel saya, peduli amat isinya penting atau tidak.

Setiap orang harus belajar menulis pesan secara terang/jelas, padat, dan informatif. Bukannya memendekkan dan menyingkat kata seenak hati, tapi isinya melebar kemana-mana tidak karuan. Jika tidak sanggup, tulislah surat atau karangan bebas saja jika mau berkirim kabar pada saya!

Saya seperti penyandang disabilitas untuk membaca semua kata-kata yang dibuat menjadi asing itu. Jika orang tidak peduli pada kesulitan saya untuk membacanya, mengapa saya harus peduli untuk mengacuhkan pesan itu?

Apalagi kalau suasana hati saya sedang tidak enak, bisa-bisa saya labrak balik mereka yang mengirim pesan seperti itu.

Blog dan Jurnalisme

Apakah blog adalah bentuk jurnalisme? Ini adalah pertanyaan klasik yang masih banyak betebaran sampai sekarang, dan masih jadi perdebatan yang hangat di mana-mana. Apakah sebuah blog mesti mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik dalam penulisannya? Sehingga tepat dikatakan blog sebagai karya jurnalistik?

Kita sudah mengetahui sebuah blog, dan ini adalah contoh sebuah blog. Lalu apa itu jurnalisme? – sebuah kata yang cukup sering terdengar oleh banyak orang, namun artinya sedikit samar-samar. Saya bukan orang yang mendalami jurnalisme, sehingga saya perlu mengutip dari sumber lain, semisal Wikipedia memberikan pengertian sebagai berikut:

Journalism is the investigation and reporting of events, issues, and trends to a broad audience. Although there is much variation within journalism, the ideal is to inform the citizenry. Besides covering organizations and institutions such as government and business, journalism also covers cultural aspects of society such as arts and entertainment. The field includes jobs such as editing, photojournalism, and documentary.

Jadi secara sederhana saya bisa tangkap bahwa jurnalisme adalah suatu aksi menyelidiki dan (kemudian) melaporkan kejadian-kejadian, isu (topik pembicaraan) dan tren (topik-topik hangat).

Dan kita sering menemukan blog-blog yang menuliskan hal-hal seperti itu, misal kejadian sehari-hari (jurnal), pendapatnya (narablog) tentang seputar isu-isu politik, sosial dan lain sebagainya. Bahkan ada situs-situs blog yang memuat tulisan berbasis Citizen Journalism seperti blog BaleBengong.Net. Lalu apakah ini berarti nge-blog adalah bentuk jurnalisme dan membuat seorang narablog (blogger) adalah jurnalis?

Menurut Dana Blankenhorn dalam tulisannya di Corante yang berjudul ‘Is Blogging Journalism?’ Memberikan jawaban singkat: tidak. Dalam pendapatnya, blog bisa jadi sebuah catatan harian biasa, bisa jadi sebuah komunitas sosial, namun lebih tepatnya blog adalah sebentuk media publikasi instan di internet yang bisa dilakukan oleh setiap orang bahkan mereka yang tidak mengenal pembahasaan web.

Jurnalisme dapat hadir di blog sebagaimana di banyak tempat lainnya. Namun sebagaimana halnya bukan semua media yang dicetak adalah bentuk jurnalisme, dan tidak semua yang disiarkan adalah bentuk jurnalisme – pun jurnalisme hadir dalam media cetak dan penyiaran, demikian halnya dengan kegiatan seputar blog. Kadang kebingungan muncul dari pencampur-adukan antara media dan pesannya.

Jadi sepertinya kita bisa melihat, bahwa blog adalah sebuah alat/media, tepatnya alat pembawa pesan yang sangat unik. Kini tergantung, apakah pesan yang disampaikan lewat blog apakah mengandung unsur jurnalistik, sebagaimana yang ditulis dalam ‘Are Bloggers Journalist? – Let’s Ask Thomas Jefferson’ oleh Christopher B. Daly, seorang profesor jurnalisme dari Universitas Boston.

Lalu apakah unsur jurnalistik yang harus dipenuhi sehingga sebuah blog bisa disebut mengandung pesan jurnalisme? Mungkin kita bisa mengambil panduan sederhana dari buku ‘The Elements of Journalism’ oleh Bill Kovach & Tom Rosenstiel. Ada sepuluh elemen (disebutkan dalam buku edisi April 2007) yang harus dipenuhi.

  1. Journalism’s first obligation is to the truth.
  2. Its first loyalty is to the citizens.
  3. Its essence is discipline of verification.
  4. Its practitioners must maintain an independence from those they cover.
  5. It must serve as an independent monitor of power.
  6. It must provide a forum for public criticism and compromise.
  7. It must strive to make the significant interesting, and relevant.
  8. It must keep the news comprehensive and proportional.
  9. Its practitioners must be allowed to exercise their personal conscience.
  10. Its the rights and responsibilities of citizens.

Mungkin elemen-elemen di atas terdengar sederhana, namun bagaimana aplikasinya di lapangan atau di dunia blog tentunya tidak akan mudah. Seperti halnya poin pertama, tentang menyampaikan ‘kebenaran’, kesannya mudah, namun jika seorang narablog tidak terbiasa, maka campur aduk antara opini & fakta bisa menjadikan tulisan tidak objektif, apalagi ditambah mungkin hobi mencari sensasi semata sehingga lebih tertarik menulis gosip populer untuk mencari popularitas daripada menulis kritik sosial akan fakta yang benar-benar terjadi di masyarakat.

Oleh karena menyadari kapabilitas saya di ranah jurnalisme sangat minim, maka saya tidak hendak menempelkan logo jurnalisme warga di blog ini. Sebagaimana halnya juga validitas sebuah blog sebagai referensi, saya pun tidak menyarankan tulisan-tulisan saya dijadikan sebagai rujukan.

Tulisan Pertama

Berapa lama ya saya sudah ngeblog? Ah…, ya ya…, saya sudah pernah menyebut sebelumnya. Itu sejak Januari 2006, saya terdaftar di blogger.com – tapi blog-nya sendiri sekarang sudah tidak bisa diakses, karena saya matikan. Malam ini saya agak sedikit usil melihat kembali arsip lama saya, karena di sanalah kenangan saya akan tulisan-tulisan saya.

Saya mungkin lupa apa saja yang pernah saya tulis, namun saya ingat satu hal, bahwa semua yang saya tulis bukan untuk orang lain secara mengkhusus, bukan untuk pembaca, namun untuk saya sendiri (ah, susah juga jadi orang egois). Coba bayangkan siapa yang akan dengan suka cita dan senyum-senyum sendiri membongkar arsip blog lama Anda kecuali Anda sendiri! :D

Saya juga tidak ingat bagaimana saya bisa punya blog pertama kali – maksudnya, saya tidak ingat, apa sih yang membuat saya menulis di internet. Saya mungkin bisa melihat beberapa faktor pendukung, tapi tetap saja mengapa blog, saya tidak bisa mengingatnya lagi – ah mungkin karena membuat website sendiri dulu di (mendiang geocities) bagi saya tidak praktis.

Dulu saya tidak tahu yang namanya kode HTML, tidak tahu yang namanya sistem komentar, tidak tahu apa yang kini jadi panduan yang mungkin tidak selalu pas bagi saya sebagaimana yang saya tulis sebelumnya dalam “Memupus Paradigma Blogger Sejati”.

Satu-satunya hal yang saya ketahui saat itu adalah saya suka menulis. Saya hanya menulis pendek, belum ada akses internet rumahan kala itu. Saya menulis sesempat saya sambil mencari bahan kuliah di warung internet. Jadi ya, tidak ada yang namanya selalu menulis. Hanya secuil yang bisa diungkapkan. Ya itulah yang tertuang.

Mungkin karena saya masih muda di dunia blog – karena para narablog senior bisa jadi sudah ngeblog selama lebih dari sepuluh tahun saat ini. Rasanya dulu tidak terlalu ramai yang namanya blogwalking, saya juga di awal masa blog tidak menemukan yang namanya spam. Istilah seperti itu hanya baru saya ketahui belakangan sejak pindah ke domain pribadi.

Dulu adalah masa-masa sakral di tanah suci blog, he he…, Anda hanya cukup menuangkan sentuhan kemanusiaan anda ke dalam bit-bit data di dunia maya, ini seperti sentuhan antara teknologi dan manusia. Kesucian itu begitu polos, dan tidak dicemari oleh berbagai penyembahan terhadap trafik atau komentar asal lewat sambil buang sampah. Ah…, apa kata dunia?

Well, tidak ada yang abadi bukan? Narablog masa kini menghadapi lebih banyak “warna” kehidupan dunia blog. Kadang itu tampak menyenangkan, kadang tampak mengganggu. Yah, tapi saya kembali menjadi orang yang tidak terlalu peduli dengan semua itu.

Saya kembali membuka-buka arsip lama dan menemukan tulisan pertama saya di dunia blog.

Not yet end this day … and I start another journey. Here I am … for new imagination of future!

Itu yang tertulis dalam sebuah artikel mungil berjudul “Starting Evening”, yang bisa dikatakan adalah sentuhan pertama saya pada halaman weblog.

Dua kalimat itu mungkin tidak berarti apa-apa, bagi siapa pun selain saya sendiri. Namun itu adalah sentuhan pertama, langkah pertama, atau apa pun istilahnya, yang melahirkan apa yang saat ini menjadi halaman-halaman lain, seperti Bhyllabus ini, Daily Lhagima, Cahya’s Stupid Enigma, dan lain sebagainya ah…, dan beberapa catatan lainnya, yang mungkin sejak dulu hingga sekarang – tak ada yang berubah banyak.

Jika Anda memiliki beberapa banyak tulisan menumpuk seperti saya, mungkin Anda akan melakukan hal yang sama, membuka-buka kembali yang dulu ada. Kadang terhenyak bertanya, mengapa ya saya dulu menulis ini, lalu yang itu saya tulis pas sedang apa ya. Anda akan memiliki sebuah album tulisan – walau mungkin tanpa foto – sebuah mesin waktu yang mengantarkan Anda kembali ke masa lalu, dan menerbangkan Anda jauh ke masa depan melalui tulisan-tulisan itu yang berisi harapan dan mimpi anda untuk hari esok.

Jika kemudian Anda menelusuri tulisan pertama Anda, yang kedua, yang ketiga dan seterusnya. Anda mungkin kan bertemu diri anda yang lain yang berada di balik cermin.

Pun demikian, segala yang bermula akan menemukan akhirnya. Jangan paksa diri untuk selalu menulis. Manusia memiliki batas dan keterbatasan. Jalinankata – nama pena salah seorang sahabat narablog pernah menulis tentang “Love will find away” mungkin maksudnya “love will find a way”, ya cinta akan menemukan jalannya – jika kita mencintai menulis – mungkin akan tercipta jalan agar penulis, menulis dan tulisannya dapat berada bersama-sama.

Hari ini 5 Juni, hari di mana tulisan ini dijadwalkan untuk muncul di halaman muka Bhyllabus. Hmm…, apakah ini Hari Lingkungan Hidup Sedunia? Ah…, bukan itu, walau semua hari terlupakan, namun saya tidak ingin lupa untuk tanggal yang satu ini.

Sudah dua puluh tahun berarti berlalu, namun entahlah mungkin sudah hampir sepuluh tahun sejak rencana awal manuskrip itu muncul. Sudah saatnya semua dirampungkan…

Kurasa itu mimpi kami bersama…, sesuatu yang jauh namun dia yang telah mengajariku menulis di atas angin dengan awan-awan. Walau dia sudah tidak lagi bisa kutemukan di dunia di mana angin-angin yang ia titipkan ini menjadi napasku, kutahu ia tahu bahwa aku juga ingin mewujudkan mimpi yang sama…

Sejak sebulan yang lalu, saya tahu hari ini akan datang. Saya tidak tahu apakah ini akan menjadi lembar penutup di Bhyllabus, namun saya harap saya masih bisa menulis lagi di sini, meski hanya sesekali. Ah…, tapi siapa yang tahu masalah jodoh. Bahkan jika pun ini memang tulisan terakhir, toh saya sudah menuangkannya dengan suka cita – sembari melihat perjalanan saya di dunia blog selama ini.

Pun ini menjadi tulisan terakhir, saya rasa tak ada yang perlu ditahan, tak ada yang perlu disesalkan. Demikianlah kehidupan, ada pertemuan dan ada perpisahan.

See you again my Bhyllabus, your humble villager shall take a kind of long trips. Don’t worry, I’ll take Taz with me, so he can wacth me for you, ha ha… :p

Taz my wingman

Ha ha…, sebenarnya saya pingin ngomong begitu. Tapi untungnya kemarin ada dermawan yang tidak bersedia disebut identitasnya bersedia membantu kelangsungan Bhyllabus, sehingga masih bisa bernapas setidaknya untuk satu tahun ke depan. Beside Taz won’t leave Bhyllabus until He get a chance to tell his own story, what a kid. Well, see ya again soon. :D

Rumor Produk ASPARTAME Yang Berbahaya oleh IDI

Hari ini saya mendapatkan sebuah pesan singkat (sms) dari salah satu sanak keluarga, yang berisi pesan seolah-oleh terusan dari IDI. Kira-kira pesan tersebut bertuliskan: Saat ini sedang ada wabah pengerasan otak atau sumsum tulang belakang. Jangan minum produk : extra joss, M-150, kopi susu gelas, Kiranti, Krating Daeng, Hemaviton, Neo Hormoviton, Marimas, Hore, Frutillo, Segar Sari, Pop Ice, Segar Dingin Vit C, Okky Jelly Drink, Inaco, Gatorade, Nabati, Adem Sari, Naturade Gold, Aqua Splash. Karena mengandung Aspartame racun yang menyebabkan diabetes, kanker, dan bisa mematikan.

Continue reading