Planes dari Pixar

Disney Pixar kembali merilis film animasi terbaru mereka (sebenarnya sih sudah berita lama), yaitu Planes yang tayang dalam animasi 3D. Mungkin terinspirasi dari kesuksesan Cars 1 & 2, maka film Planes ini dibuat, karena karakternya di dalamnya hampir serupa, kecuali kali ini seputar pesawat udara. Cerita dalam film Planes ini sebenarnya klise saja, tapi kemasannya yang baru. Bagi yang sering menonton film berlatar sejenis mungkin akan jenuh menyaksikan film ini.

Kisahnya sederhana, tentang Dusty – pesawat penyemprot pestisida yang digunakan di ladang-ladang pertanian yang bermimpi menjadi pesawat pembalap. Dia pun sibuk berlatih aerobatik setelah dia selesai dari tugasnya menyemprot hama. Dan pada suatu ketika kesempatan itu datang padanya, di sinilah kisah Planes berlanjut pada balapan kelas dunia; sebagaimana film Cars sebelumnya. Continue reading

Brave

Brave adalah film animasi terbaru dari Disney dan Pixar yang mengambil latar di era Skotlandia tempo dulu, saat mitos dan legenda dimulai. Karena sejumlah masukkan dari teman-teman di Facebook, saya memilih menonton Brave, sebelumnya ada juga pertimbangan menonton Madagaskar 3. Namun karya Pixar tidak ingin dilewatkan jika bisa.

Sore itu saya datang ke Empire XXI dan memesan tiket 30 menit sebelum pertunjukkan terakhir, rupanya banyak kursi yang kosong. Brave diawali dengan film pendek dari Pixar, dan ini adalah bonus yang tidak ternilai. Kali ini adalah “La Luna” yang saat munculnya perahu kecil itu saya sudah tebersit pemikiran akan “Sang Rembulan”. Film pendek karya Enrico Carsarosa ini memenuhi layar selama hampir 7 menit dengan keajaiban-keajaiban imiganiasinya. Continue reading

Spionase ala Cars 2

Tahun ini, lanjutan film animasi Cars oleh Disney dan Pixar diluncurkan kembali. Meski sudah mulai tayang pada 24 Juni yang lalu, namun di Indonesia sendiri baru mulai ditayangkan beberapa waktu yang lalu. Tentu saja seperti biasanya, saya tidak ingin melewatkan film besutan Pixar. Apalagi film animasi yang bernuansa spionase ala agen Inggris double O seven tidak banyak ada.

Agak berbeda dengan film pertamanya, di mana Lightning McQueen yang menjadi tokoh sentral untuk memenangkan Piston Cup. Kali ini mobil derek dua – Mater yang tampaknya dijadikan sebagai tokoh utama. Dia adalah penyebab terjadi pelbagai masalah di sekitarnya dan di sekitar McQueen.

Continue reading

UP

Up

Pixar dan Walt Disney bergabung tentu saja akan memberikan sebuah sensasi. Ya, keyakinan seperti itu mungkin sudah dikenal oleh para pencinta film animasi.

Walt Disney tidak diragukan lagi, sebuah kekuatan luar biasa dalam pemberdayaan film animasi bagi lingkungan keluarga. Lihat saja sejarah yang dibuatnya, bahkan sejak kita masih kanak-kanak, mereka mengatakan bahwa Disney adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Sedangkan studio Pixar, hmm…, walau tidak seperti Walt Disney yang hampir setiap orang tahu siapa pendirinya (tentu saja nama itu akan mengingatkan mereka kembali), namun apakah kamu tahu jika pendiri Pixar adalah Steve Job si pencipta raksasa Apple Inc., (dulunya Apple Computer)? Orang yang kini menjadi ujung dari rentetan beredarnya MacBook, iPod, iPhone dan berbagai gadget yang memukau itu. Dan tahukah kamu bahwa ia mendirikan Studio Pixar saat ia sendiri dipecat dari perusahaan yang ia bangun sendiri (merujuk pada Apple Computer).

Ya, Pixar konon hanya membuat satu film panjang dalam setahun, hal ini untuk menjaga kualitas film yang dibuat menjadi sebaik mungkin. Walau kamu mungkin menemukan mereka membuat banyak film animasi pendek yang tidak kalah bagusnya. Tak pernah tergesa-gesa walau tetap bersaing ketat dengan studio sebesar DreamWorks si penghasil Shreks, KungFu Panda, dan lain-nya.

Lihat saja tahun lalu. Pixar meluncurkan Wall-E, sebuah film bertema futuristik yang luar biasa, walau kemudian kalah saing dari segi pendapatan dengan Kungfu Panda keluaran Dreamworks, namun memenangkan lebih banyak penghargaan.

Kali ini Pixar bersama Walt Disney meluncurkan sebuah film animasi berkelas lainnya: “Up”. Aku baru saja menontonnya, dan ini sungguh luar biasa. Bertema tentang seorang kakek (baca: laki-laki), yang berusaha memenuhi janji pada sahabat masa kecilnya (yang juga almarhum istrinya), untuk melakukan petualangan yang diimpikan sahabatnya itu, yang mereka tak pernah sempat lakukan bersama. Kocak, tak kalah menarik dengan Ice Age 3, romantis, dan yang paling menarik adalah Pixar tak pernah kehilangan kemampuan untuk menyapukan di atas rol-rol film mereka, kekuatan untuk mengungkapkan sisi kemanusiaan yang lembut, rapuh namun juga kokoh.

Hal lain yang menarik dari film ini adalah penggunaan musik latar yang luar biasa apik, biasanya aku melewatkan begitu saja musik latar karena jalan cerita. Namun kali ini sebuah musik klasik (ayo tebak judulnya apa?) yang membarengi kisah ini benar-benar mengalami aransemen yang luar biasa. Awalnya aku tidak sadar bahwa itu musik yang sama, namun berubah-ubah temponya sesuai dengan alur film dan suasana yang ditampilkan, ini seakan-akan membungkus film itu dalam lorong musikal yang utuh dari awal hingga akhir.

Dan tentu saja, jalan cerita yang sudah perlu diragukan lagi. Anda cukup beruntung jika bisa duduk menikmati film yang satu ini.