Bukan Pelahap Buku

Saya memiliki sejumlah kecil koleksi buku, meskipun saya gemar mengumpulkan buku-buku menarik, namun karena keterbatasan anggaran, saya berusaha menahan diri agar tidak mengunjungi toko buku – sehingga dompet tidak bocor di sana. Sekali menemukan buku menarik, biasanya saya tidak tahan untuk tidak membelinya – terlepas dari apakah buku tersebut nantinya dibaca atau hanya memenuhi rak dan lemari buku.

Namun ada saja buku yang saya dapatkan dari pemberian para sahabat, entahlah, mungkin karena buku adalah hadiah terbaik yang bisa diterima seseorang selain iPad atau Lamborghini tentunya. Ha ha…, pastinya tidak akan ada yang memberikan iPad pada saya karena tahu saya pecinta open source, pun tak akan ada yang memberikan Lamborghini, karena saya suka ngebut di jalanan. Continue reading

Malam yang Berat

Bukan karena sakit tapi itu juga salah satu yang membebani, malam kemarin adalah malam yang berat bagi saya. Jadi pagi ini ingin dituangkan sedikit, semoga menjadi lebih lapang dalam perasaan ini. Saya akan mengilustrasikan, karena jujur saja, sampai saat ini sebenarnya saya tidak begitu paham duduk perkaranya dari permasalahan yang sudah berlalu berbulan-bulan atau mungkin sudah hampir setahun ya – entahlah.

Saya memiliki sahabat yang sama-sama menekuni bidang kesehatan, saya sangat menghargainya karena selain dia lebih senior dan lebih berpengalaman, dia juga adalah sahabat baik saja – setidaknya entah ada masalah apa dulu itu.

Saya ingin berbicara dengannya tentang sesuatu – sebenarnya ingin menanyakan dan konsultasi sesuatu tentang kondisi kesehatan saya yang sedang menurun (dengan tajam, bak pasar saham anjlok). Tapi (kesannya) dengan enggan, dia tidak ingin bicara, cukup via pesan singkat saja.

Lha, saya kan merasa tidak enak, karena jelas saya yang perlu, masa nanti malah pesan singkat berkepanjangan yang bisa diwakilkan dengan kata-kata pendek dan cepat selesai mengingat sudah mulai larut malam (apalagi tentunya saya tidak enak membebani pulsa walau sedikit, kecuali jika bisa diperkirakan sms hanya dua kali balasan saja).

Jadi saya bertanya kembali, apa bisa saya berbicara langsung saja. Apalagi tampaknya dia tidak begitu sibuk, karena masih aktif saling celoteh di salah satu akun jejaring sosialnya. Tapi entah kenapa – kepala saya terlalu pusing untuk menangkapnya – percakapan pesan singkat malah jadi tidak menentu.

Saya langsung teringat, kami dulu memiliki sebuah (atau beberapa?) masalah, yang kembali saya tidak tahu duduk perkaranya. Dia pernah sangat marah pada saya, karena alasan yang tidak saya ketahui. Awalnya saya pikir itu karena suasana hati yang buruk, jadi saya menunggu, tapi ternyata makin lama makin kronis.

Dulu setiap kali saya bertanya – ada apa – dia selalu menghindar. Jadi saya hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi. Saat ini kami sudah bertugas terpisah jauh, tapi dulu sempat bersama-sama. Katakanlah seperti ini, dari terkaan saya, kami pernah mengerjakan sesuatu bersama-sama, tapi mungkin dia melihat ada kesalahan di situ, dan dia berusaha memperbaiki itu tanpa memberitahukan apapun pada saya.

Dan ketika memperbaiki yang dia anggap tidak tepat itu, muncul pelbagai masalah. Mungkin karena sifatnya, dia, saya rasa memaksa diri memperbaiki semua itu sendirian. Tentu saja saya tidak tahu apa-apa, kecuali hanya kalau berpapasan mendapat tatapan sinis dan perasaan yang menusuk. Tapi tentu saja saya bisa mengenali gelagat adanya masalah, walau tidak tahu ada masalah apa.

Saya baru sadar itu bukan masalah suasana hati, karena yang jadi sasaran suasana hatinya kok cuma saya. Sehingga, agar jelas, pernah suatu ketika saya dalam nada “menuntut” meminta adanya kejelasan, tentang sikap dan apa yang sebenarnya ada di balik semua itu. Lha, kan tidak nyaman disenyumi sinis sepanjang zaman, kalau memang saya ada salah, biar saya bisa mengoreksinya.

Tapi bagai geledek di siang bolong, saya tidak tahu dari mana datangnya respons yang mengagetkan itu. Dia bilang saya orang brengsek yang hanya pura-pura baik, dan tidak mau lagi berurusan dengan saya. Tidak menyangka tentu saja, karena saya mengenalnya sebagai orang yang ramah dan santun, bahkan jauh berkepribadian lebih baik daripada saya.

Terhenyak membuat saya diam sejenak, baiklah jika memang saya orang yang brengsek baginya, saya toh bukan orang yang baik sepenuhnya. Tapi akhirnya itu membuat saya diam sama sekali, dan bukan sejenak. Ya, maklum, ini pertama kalinya orang bilang brengsek pada saya dengan begitu serius (tentu saja bersama cacian lain yang tidak mungkin saya ungkapkan di sini) pun itu dari sahabat baik saya sendiri. Dan berakibat akar permasalahannya tidak pernah saya temukan.

Sampai suatu ketika, dia mengirim saya pesan singkat. Intinya dia meminta maaf atas semua kata-katanya yang menyakiti, dan menjelaskan latar belakang, yang pada akhirnya juga tidak jelas. Hah…, saya menghela napas panjang, ya sudah, saya anggap semua itu selesai, biar ditutup saja lembarannya, karena tidak semua hal di dunia ini setegas hitam dan putih.

Nah, sampai semalam itu kami berbincang kembali via pesan singkat. Dan sepertinya “suasana hatinya” kembali memburuk, dan kembali tiba-tiba menyambar ke masa lalu, padahal itu sudah ditutup – dan entah mengapa saya menangkap dia tidak menganggap itu selesai, dan tidak melepaskan itu selesai. Sehingga saya jadi berpikir, pastilah masalah itu sangat besar.

Malam kemarin kembali nada bicaranya tinggi (walau lewat pesan singkat), dia menjelaskan sedikit duduk perkara yang dulu. Lalu saya pun merasa perlu memberi pendapat saya, dan saya bilang jika demikian dulu, saya tidak mungkin tak acuh, dan memang dalam pandangan saya di sana seharusnya tidak timbul masalah jika dia berbicara pada saya apa yang sebenarnya terjadi sejak semula.

Nah, malang tak dapat ditolak, lidah (eh, jari) saya kepleset sedikit dan berkata bahwa sebaiknya jika dia bisa bersikap terbuka pada orang di sekitarnya, karena jika tidak masalah seperti ini (atau itu? entahlah) bisa selalu muncul kapan saja. Eh, saya langsung kena semprot, malah dibilang saya munafik, dan tidak perlu berpura-pura bersikap baik, bahwa sebenarnya saya benci dia (atas apa yang dia perbuat), dan lain sebagainya. Yah…, kok malah jadi melodrama begitu pikir saya.

Aduh, maksud wajar, malah kena deh. Saya mungkin berbakat jadi aktor, tapi saya tidak berpura-pura baik di hadapannya – saya tahu itu, memangnya saya dapat untung apa berpura-pura baik, kalau memang ada yang saya tidak suka, saya pasti akan bilang langsung.

Saya tidak benci dia, lha wong hingga sekarang saya masih tidak tahu duduk perkaranya, seperti misalnya apa yang pertimbangannya tidak jujur pada saya tentang masalah itu dari awal. Karena memang tidak ada benci, ya tidak ada, kok pemikirannya dipaksa untuk mengaku benci, jika orang percaya kebaikan itu tiada dan berganti dengan kebencian – apalagi yang tiada beralasan, maka sekalian saja buang semua kepercayaan tentang kebaikan dan kepercayaan tentang Tuhan.  Dan saya tahu dia orang yang taat pada Tuhan, dan tentu saja dia orang yang baik, dan saya tidak pernah mengubah pandangan saya bahwa dia orang yang baik hingga kini.

Hanya saja karena suatu hal yang tidak jelas maka jalan kami berseberangan. Tapi bukan berarti mesti membuat dua manusia larut dalam kebencian yang saling menguatkan. Karena percayalah, dunia sudah ada banyak yang gemar mengobarkan kebencian, dan saya rasa saya tidak perlu menambahnya lagi.

Setelah hampir 30 sms (lupa ngitung, dan memang tidak pernah juga), belasan kertas tisu korban rhinorrhea, segelas besar infusio teh herbal buatan sendiri, kepala yang pening. Maka saya tidak yakin jika kondisi tubuh saya akan membaik dalam waktu 24 jam berikutnya. Tapi terserahlah, tidak semua hal bisa dipahami, dan jika saya memaksa diri untuk memahaminya, maka energi saya akan terkuras lebih banyak lagi. Saat ini saya memilih menjadi egois sesaat, karena saya mengoptimalkan energi saya untuk penyembuhan – masa ujiannya mundur lagi, bisa kena marah seseorang nanti jika kelamaan jadi pengangguran.

Ah…, ini hanya basa-basi di Minggu pagi, jangan terlalu dihiraukan.

Google Lansiran Lokasi

Pernahkah Anda mendapatkan ide untuk tiba-tiba berjumpa dengan kawan lama yang hanya sesekali bertemu di dunia maya, semisal lewat facebook tapi karena kesibukan masing-masing tidak pernah bisa menyempatkan waktu bertemu?

Tiba-tiba telepon seluler anda berdering dan sebuah sms masuk menyatakan bahwa dia ada tidak jauh dari lokasi Anda. Apakah hal ini mungkin, padahal belum ada perencanaan sebelumnya? Ya, walau masih dalam tahap pengembangan, hal ini masih mungkin dengan sebuah aplikasi bernama Google Lansiran Lokasi.

Continue reading

Can’t Stoped … Can’t Dream Alone

Some times its crash and flash, run and gone, hit and disappear. Will I wacth something that even my mind can’t cacth it. Rotate between days and night, jumps between hell and heaven.

River in the sun is always burning, fire in the moon is always freezing. The earth could not follows the sun, the moon never follows the earth. But way the moon follows the sun, though sun never lead it.

Continue reading