Google Lansiran Lokasi

Pernahkah Anda mendapatkan ide untuk tiba-tiba berjumpa dengan kawan lama yang hanya sesekali bertemu di dunia maya, semisal lewat facebook tapi karena kesibukan masing-masing tidak pernah bisa menyempatkan waktu bertemu?

Tiba-tiba telepon seluler anda berdering dan sebuah sms masuk menyatakan bahwa dia ada tidak jauh dari lokasi Anda. Apakah hal ini mungkin, padahal belum ada perencanaan sebelumnya? Ya, walau masih dalam tahap pengembangan, hal ini masih mungkin dengan sebuah aplikasi bernama Google Lansiran Lokasi.

Continue reading

Apa Yang Saya Harapkan Dari Operator Seluler Saya?

Saya sering bercanda dengan rekan-rekan saya ketika mereka bertanya “Koq hape-mu ra iso dihubungi?” (Kenapa telepon selulermu tidak bisa dihubungi), saya pun menjawab, “ya iso toh…, aku ra duwe hape” (ya bisa saja karena saya tidak punya telepon seluler). Ya saya memang tidak punya telepon seluler, karena saya menggunakan Smartphone dan Personal Device Assistant, wealah… kebangetan, ha ha…, yah itu kelakar saya. Namun saya selalu mengingatkan rekan-rekan saya, jika ingin menghubungi saya, hubungilah via surat elektronik.

Continue reading

Ponsel di Pinggang dapat Melemahkan Tulang?

Kini telepon seluler (ponsel/handphone) sepertinya sudah ada di mana-mana, dan sudah banyak yang memilikinya, mulai siswa sekolahan hingga para pekerja dewasa. Beberapa orang suka menempatkan ponsel ini dalam sebuah wadah yang bisa diletakkan di pinggang (biasanya terhubung dengan ikat pinggang), terutama pada para pengguna laki-laki, hal ini menjadi semacam mode atau tren di masyarakat.

Penelitian-penelitian awal menduga bahwa jika seseorang menempatkan ponselnya di pinggang, hal ini dapat melemahkan area pelvis secara luas yang biasanya digunakan pada bone grafting.

Menggunakan suatu teknik sinar-X yang dipakai dalam mendiagnosis dan memantau pasien-pasien dengan osteoporosis, para peneliti dari Turki (Universitas Suleyman Demireli) mengukur densitas (kepadatan) tulang pada 150 pria yang biasanya membawa ponsel mereka dengan melekat pada ikat pinggang.

Orang-orang tersebut membawa ponsel mereka setiap harinya dengan waktu rata-rata selama 15 jam; dan mereka telah menggunakan ponsel rata-rata selama enam tahun.

Para peneliti menemukan bahwa kepadatan mineral tulang sedikit kurang pada sisi di mana ponsel biasanya dibawa dibandingkan sisi yang tidak pernah kontak dengan ponsel. Perbedaan yang ditemukan tidaklah bermakna secara statistik dan jauh dari apa yang bisa dilihat pada berkurangan kepadatan tulang pada penderita osteoporosis.

Namun penemuan-penemuan meningkatkan kemungkinan bahwa kepadatan tulang dapat terpengaruh (secara buruk) oleh medan elektromagnetik yang dipancarkan oleh telepon seluler. Peneliti Tolga Atay dan rekan-rekannya mencatat hal ini dalam keluaran terbaru mereka.

Para pria dalam penelitian relatif masih muda – usia rata-rata mereka sekitar 32 tahun – dan para peneliti memiliki hipotesisi bahwa kehilangan massa tulang bisa lebih bermakna pada lansia dengan risiko osteoporosis yang lebih besar. Penelitian ini muncul pada Journal of Craniofacial Surgery Edisi September.

Ini adalah salah satu yang pertama menduga bahwa paparan jarak dekat – jangka panjang terhadap telepon seluler dapat melemahkan tulang, dan para peneliti menekankan bahwa temuan-temuan mereka masih berupa temuan awal atau pendahuluan.

Pendapat Lain

Frank Barnes (PhD) yang merupakan profesor terkemuka pada bagian teknik elektro dan komputer di Universitas Colorado, mengatakan bahwa ia tidak tahu ada penelitian lain yang memeriksa dampak telepon seluler terhadap kepadatan tulang.

Barnes yang mengepalai komite Dewan Penelitian Nasional (NRC) diminta oleh FDA (BPOM-nya Amerika) untuk melaporkan penelitian yang menilai ulang keamanan telepon seluler.

Ia menunjukkan bahwa gelombang-gelombang elektromagnetik telah digunakan secara eksperimental untuk menambah pertumbuhan tulang pada orang-orang dengan patah tulang yang tidak dapat sembuh. Terapi gelombang elektromagnetik juga didapati mampu memperkuat tulang pada penelitian yang melibatkan orang-orang dengan osteoporosis.

Namun Atay dan koleganya menunjukkan bahwa penelitian-penelitian ini melibatkan gelombang-gelombang elektromagnetik dengan frekuensi amat lemah sekitar 15 hingga 70 Hz, sedangkan telepon seluler biasanya memiliki gelombang elektromagnetik antara 900 hingga 1.800 MHz.

Komite NCR yang dikepalai Barnes memublikasikan laporannya pada Januari 2008, menyimpulkan bahwa lebih banyak penelitian diperlukan untuk menilai penggunaan telepon seluler apakah berhubungan dengan permasalahan kesehatan jangka panjang.

Barnes mengatakan bahwa ada sangat sedikit penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah gelombang radiofrekuensi yang dipancarkan oleh telepon seluler memberikan risiko pada kelompok tertentu, seperti anak-anak, dewasa, wanita hamil dan janinnya.

Lebih dari 500 penelitian telah dipublikasikan dalam hal memeriksa dampak telepon seluler  terhadap kesehatan, seperti misalnya apakah telepon seluler menyebabkan kanker. Namun hasil-hasilnya masih bermasalah atau saling bertentangan.

Adaptasi dari: Cellphone on Hip may Weaken the Bone.