Skip to content

Tag: tumbleweed

Kingsoft WPS Office pada openSUSE

Belakangan ini saya menyadari saya akan bekerja dengan banyak presentasi, dan tidak nyamannya ketika banyak orang masih menggunakan Windows dan Microsoft Office – maka kebanyakan berkas presentasi akan masuk ke dalam perangkat lunak PowerPoint yang sudah terkenal sejak dulu. Perangkat lunak lain akan kesulitan untuk mendapatkan kesan yang sama elegannya. Saya sendiri lebih tenang menggunakan berkas ODP untuk presentasi, tapi tidak demikian dengan pengguna Windows. Continue reading Kingsoft WPS Office pada openSUSE

Mencoba Deepin Music Player

Karena berpindah ke seri Tumbleweed, saya masih tidak bisa membiasakan diri dengan pemutar musik Amarok bawaan KDE. Memang Amarok tidak buruk, tapi bagi saya memiliki terlalu banyak fitur yang tidak saya perlukan sehingga membingungkan, saudaranya Clementine juga bukan merupakan pilihan yang baik bagi saya.

Lalu saya melihat ada ulasan tentang Deepin Music Player ketika mencari sejumlah aplikasi pemutar musik guna menggantikan Nightingale yang terlalu repot ketika dipasangkan dengan seri tumbleweed. Sepertinya sederhana, dan saya pun mencobanya. Continue reading Mencoba Deepin Music Player

Desktop Yang Saya Gunakan

Jawabnya tentu openSUSE Tumbleweed edisi GNOME. Tapi kadang ada saja yang bertanya, “Yang kamu pakai itu seperti apa sih?” – tentunya kemudian saya tahu bahwa pertanyaan itu tidaklah mengherankan, karena lima atau enam tahun ke belakang saya mungkin akan menanyakan hal yang sama.

Apalagi setelah sambil sepotong-potong mendengarkan streaming kuliah kecil tentang open source dari ruang pertemuan PPTIK UGM, jadi saya banyak memikirkan kembali. Memang pada kenyataan masih banyak orang yang skeptis dengan menggunakan desktop Linux dalam kesehariannya; mungkin Linux terkesan dengan sulit dan paradigma yang mengerikan saat menggunakan baris perintah untuk mengoperasikannya. Jadi (banyak) orang lebih rela menjadi penjahat yang melanggar pembukaan UUD 1945 dengan melakukan pembajakan peranti lunak sebagai salah satu bentuk penjajahan dibandingkan menggunakan peranti lunak legal. Continue reading Desktop Yang Saya Gunakan

Shutter pada openSUSE Tumbleweed

Membuat agar Shutter sebagai salah satu aplikasi penangkap gambar layar (screen image capturer) berfungsi untuk Linux openSUSE Tumbleweed agak susah-susah gampang. Sulit dalam sudut pandang tidak semudah memasang Shutter pada Ubuntu yang tinggal mengakses ke Software Center dan memasangnya, maka Shutter bisa langsung digunakan. Dan mudah tentu saja, jika sudah paham logika pemasangannya, maka tidak akan sulit.

Pada openSUSE Tumbleweed (dan mungkin juga dapat diaplikasikan pada openSUSE versi lainnya), Shutter dapat saja dipasang langsung melalui menu Install/Remove Software yang tersedia secara mandiri ataupun terkait pada YaST. Namun sering kali kemudian tidak bisa dijalankan. Karena beberapa dependensi tidak tersedia. Continue reading Shutter pada openSUSE Tumbleweed

Meretas Keamanan WiFi dengan Linux

OpenSUSE yang saya gunakan memberikan banyak sekali kemudahan dan fitur yang tidak mungkin bisa dengan mudah didapatkan pada Windows. Namun kadang kemudahan itu bagaikan pisau bermata dua, berbahaya sekali. Beberapa hari ini, sebagaimana saya menulis sebelumnya bahwa jaringan Smartfren saya agak melambat setengahnya ketika di Jogja.

Saya mengira, jangan-jangan ada yang meretas ke dalam jaringan WiFi saya. Karena jika di rumah, jaringan biasanya saya buka begitu saja. Namun di sini akhirnya saya tambahkan kunci keamanan, meski pun dengan teman-teman kost saya bagi. Toh saya tidak begitu memerlukannya jika tidak sedang mengunduh atau memperbarui sistem. Continue reading Meretas Keamanan WiFi dengan Linux

Berstrategi di Unknown Horizons

Melalui openSUSE Asparagus, saya mencoba sebuah permainan strategi kecil bernama “Unknown Horizons” yang sepertinya cukup menarik. Ini mengingatkan saya pada “Age of Empire” atau “Settler” pada tahun-tahun yang silam, konsepnya sederhana dan terus berkembang. Bagusnya lagi dikembangkan dengan free software, sehingga semua bisa menggunakannya dan juga ikut serta mengembangkannya.

Permainan ini berlatar era penjelajahan, di mana sekelompok pelaut menemukan pulau baru di dunia baru, dan mulai membangun kehidupannya di sana. Sedikit banyak mengingatkan saya pada pelajaran sejarah di bangku sekolah. Kompleksitasnya juga menarik, karena pemain harus cerdas dalam menyeimbangkan antara pemenuhan kebutuhan warga dan penarikan pajak. Continue reading Berstrategi di Unknown Horizons

Tweetdeck Mungkin Masih Pilihan untuk GNOME 3

Saat melihat-lihat koleksi aplikasi pada openSUSE Tumbleweed saya yang saat ini menggunakan GNOME 3, saya melihat bahwa tidak terdapat aplikasi untuk sebagai klien twitter. Saya berpikir bahwa seharusnya ada Gwibber untuk GNOME, tapi ke manakah aplikasi tersebut. Saya pun membuka YaST dan menelusuri menu “Software Management”. Saya menemukan Gwibber ada di sana dan tidak terpasang.

Dengan melihat detil yang disediakan, saya tahu bahwa Gwibber dalam seluruh repo saya masih berasal dari Celadon dan belum ada yang dari Tumbleweed, dan serinya pun masih untuk GNOME 2.32. Sehingga saya mengurungkan niat untuk memasangnya, padahal itu biasanya bagus digunakan pada Natty Narwhal.

Continue reading Tweetdeck Mungkin Masih Pilihan untuk GNOME 3

Gnome 3 pada openSUSE Tumbleweed

Pasca memperbarui openSUSE 11.4 Celadon menjadi openSUSE Tumbleweed, kini yang hendak saya coba adalah GNOME 3, desktop terbaru keluaran GNOME yang akan menggantikan GNOME 2.x yang sudah cukup lama bertahan. Saya telah sempat menulis secuil tentang kontroversi GNOME 3 pada tulisan sebelumnya. Namun kini, sudah saatnya menghadapi kontroversi tersebut.

Tentu saja metode yang tidak digunakan sama dengan melakukan upgrade di openSUSE 11.4, saya menggunakan sedikit petunjuk khusus untuk upgrade GNOME 3 pada Tumbleweed. Ini hanya dilakukan pada openSUSE yang sudah menjalankan repositori Tumbleweed, namun karena GNOME 3 belum ada di repositori tersebut, maka perlu ditambahkan repostori GNOME 3 edisi Tumbleweed tersendiri.

Continue reading Gnome 3 pada openSUSE Tumbleweed

Membangun Tumbleweed Melalui Celadon

Saya memasang kembali openSUSE 11.4 Celadon pada komputer, dan secara “resmi” menggantikan Ubuntu 11.04 Natty Narwhal. Permasalahannya adalah, saya ingin mengubah Celadon menjadi Tumbleweed (tentu saja basisnya masih tetap Celadon). Dulu saya pernah mencoba Tumbleweed, dan sekarang ingin mencobanya lagi, namun dengan beberapa konsep yang berbeda.

Celadon yang saya pasang terdiri dari seluruh dekstop yang tersedia, seperti GNOME, KDE, XFCE, dan beberapa lagi. Ini berarti migrasi ke Tumbleweed merupakan migrasi besar-besaran. Namun saya tidak khawatir, koneksi Smartfren tidak memiliki batas kuota di mana kecepatan Internet akan turun setelah batas kuota tertentu, jadi saya bisa mencoba fokus untuk melakukan upgrade besar-besaran.

Continue reading Membangun Tumbleweed Melalui Celadon

Membuat OpenSuse seperti Arch Linux dengan Tumbleweed

Jika Anda melihat belakangan ini, Arch Linux mengalami pelejitan di peringkat Distro-Watch. Hal ini mungkin disebabkan karena Arch Linux tidak seperti kebanyakan Linux lainnya yang memiliki sistem major upgrade – misalnya OpenSuse memiliki rilis major upgrade setiap 8 bulan sekali dan Ubuntu setiap 6 bulan sekali ditandai dengan pergantian versi. Tapi menurut Bli Dani – pengguna Arch Linux, sistem yang digunakan Arch sangat berbeda, karena pembaruan akan dihadirkan begitu siap dipasangkan.

Sistem ini dikenal sebagai “rolling release”, yang memungkinkan Anda tidak perlu memerlukan upgrade besar-besaran dengan mengganti versi Linux yang Anda gunakan. Tapi saya tidak tahu apakah ini berarti dukungan selamanya? Karena bahkan tipe Linux dengan LTS (long term support) seperti Ubuntu 10.04 Lucid pun memiliki batasan dukungan.

Continue reading Membuat OpenSuse seperti Arch Linux dengan Tumbleweed

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close