Memberi Napas Tipografi pada KDE dengan Oxygen

Desember ini ada kabar gembira bagi pengguna Linux dengan Desktop KDE, karena ada fonta baru dari keluarga sans serif yang sedang dirancang untuk salah satu desktop termanis ini. Oxygen font – demikian sebutannya saat diperkenalkan di New Typhography sekitar seminggu yang lalu.

Fonta asli KDE yang lama memang agak “menusuk” mata, setidaknya itu menurut saya, namun tentunya tidak sedikit yang menyukainya. Saya sering kali harus menggunakan setelan tambahan pada dekstop KDE untuk mendapatkan fonta yang pas. Ini juga yang membuat saya lebih menyukai GNOME karena memberikan sisi yang lebih ramah, coba saja lihat distribusi Linux berbasis GNOME dengan fonta asli yang nyaman di mata – ala Ubuntu misalnya.

Continue reading

The Erudite 2.7.7 Released

Matt Wiebe just released the Erudite 2.7.7, a charming typography based WordPress theme. As you can see that this theme already be one of my favourite WordPress themes, and I use it here on my blog.

If you are interesting in this theme, you can find it at WordPress Free Theme Directory. And I just finished the Indonesian translation for this version. The current version 2.7.7 still uses the old Indonesian translation, and in this new translation I’ve made some fixes and some new line translated.

Okay, here is the link where you can get the translation. The file should be named “erudite_id_ID-LANG.7z”. The file were archived in 7z extension, including inside the .po & .mo files.

Download the translation file from: Bhyllabus | MediaFire | Ziddu.

Well, feel free to download, and thanks to Matt for the marvellous theme.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Tipografi CSS Pada Elemen ABBR

Saat saya mengganti tema blog dengan “The Erudite”, saya pun menyadari sesuatu yang tidak biasa pada tema ini. Ternyata setiap kata (singkatan) yang menggunakan elemen ABBR tidak memiliki tanda kasat mata, dengan kata lain dalam sekali pandang tidak dapat diketahui apakah kata itu mengandung elemen tersebut atau tidak. Kalau di tema yang lama, akan ada titik-titik kecil di bawahnya (yang membedakannya dengan pranala/inline links).

Saya bukanlah pengguna yang baik sehingga bisa melakukan “Penulisan Elemen ABBR yang Aksesibel” sebagaimana ditulis oleh Dani Iswara. Tapi rasanya tanpa style sheet yang tepat rasanya, tidak pas juga memandangnya. Jadi saya pun berniat melakukan sedikit pengubahan.

Continue reading