To play it safe is not to play.”

–Robert Altman

Terapi Lintah – Sebuah Opini

Siapa sih yang tidak kenal lin­tah (entah­lah)? Rasanya ingin ber­tanya seperti itu, tapi saya rasa belakangan ini akan sangat sulit meng­ung­kap­kan­nya. Dulu saya ting­gal di daerah per­sawahan, ketika masih dalam usia TK atau awal SD, setiap kali ber­main ke dalam petak sawah yang basah atau ber­main di sungai-sungai kecil, pas­tilah tidak lama kemudian ketika kaki sudah ter­ang­kat ke tanah yang kering akan ada setidak­nya beberapa ekor lin­tah yang menem­pel. Ah…, ini adalah hal yang wajar ketika masa-masa itu.

Menurut definisi umum di , seba­gai berikut:

Leeches are annelids comp­rising the subclass Hirudinea. There are fresh­water, ter­res­trial, and marine leeches. Like the Oligochaeta, they share the presence of a clitellum. Like ear­th­worms, leeches are her­maphrodites. Some, but not all leeches are hematophagous.

Secara umum lin­tah dikenal seba­gai hewan peng­hisap darah yang “men­jeng­kelkan” karena agak susah dilepaskan, tubuh­nya bisa men­jadi gemuk setelah meng­hisap banyak darah.

Beberapa waktu yang lalu, saya menon­ton sebuah acara televisi yang menayangkan meng­enai ter­api meng­gunakan lin­tah. Seorang ter­apis menem­pelkan seekor atau beberapa ekor lin­tah di per­mukaan kulit pasien dengan hati-hati. Beginilah cara seder­hana ter­api dengan lin­tah dilakukan.

Sebenar­nya hal ini bukanlah hal yang baru. Ter­api lin­tah sudah dikenal sejak lama, saya tidak tahu kapan per­sis­nya. Namun di abad per­tengahan di Eropa, hal ini sudah dikenal secara meluas, istilah yang digunakan adalah Hirudotherapy, karena meng­gunakan spesies lin­tah yang diberi nama Hirudo medicinalis atau dikenal juga seba­gai European Medicinal Leech.

Peng­gunaan lin­tah di masa lalu, diceritakan secara sing­kat di Wikipedia seba­gai berikut:

In medieval and early modern medicine, the medicinal leech (Hirudo medicinalis and its congeners Hirudo ver­bana, Hirudo troctina and Hirudo orien­talis) was used to remove blood from a patient as part of a process to “balance” the “humors” that, according to Galen, must be kept in balance in order for the human body to fun­ction properly. (The four humors of ancient medical philosophy were blood, phlegm, black bile, and yellow bile.) Any sick­ness that caused the subject’s skin to become red (e.g. fever and inflam­mation), so the theory went, must have arisen from too much blood in the body. Similarly, any per­son whose behavior was strident and “sanguine” was thought to be suffering from an excess of blood.

The first recorded use of leeches in medicine was in 200 BC by the Greek physician Nican­der in Colophon.[1] Hirudotherapy, the use of medicinal leech for medical pur­poses, was later popularised by Avicenna in The Canon of Medicine (1020s). He con­sidered the application of leech to be more useful than cup­ping in “let­ting off the blood from deeper parts of the body.” He also introduced the use of leech as treatment for skin disease. Leech therapy became a popular method in medieval Europe, namely the leeches from Por­tugal and France, due to the influence of his Canon. A more modern use for medicinal leech was introduced by Abd-el-latif al-Baghdadi in the 12th cen­tury, who wrote that leech could be used for cleaning the tis­sues after sur­gical operations. He did, however, unders­tand that there is a risk over using leech, and advised patients that leech need to be cleaned before being used and that the dirt or dust “clinging to a leech should be wiped off” before application. He fur­ther writes that after the leech has suc­ked out the blood, salt should be “sprin­kled on the affected part of the human body.“[2] The use of leeches began to become less widesp­read towards the end of the 19th cen­tury.[1]

Dalam tulisan ring­kas ter­sebut, dapat kita ketahui bahwa banyak sekali peman­faatan lin­tah untuk pengobatan sejak zaman dulu, walau mung­kin prinsip-prinsip yang men­dasarinya berbeda-beda. Dan tam­pak pening­katan dan penyem­pur­naan dalam metode penerapan ter­api lin­tah, seperti men­jaga kes­terilan lintah.

Kini pun lin­tah di dunia kedok­teran modern juga diman­faatkan ter­utama dalam ranah bedah mikro, fung­sinya dalam men­cegah pem­bekuan darah juga ber­man­faat juga ber­man­faat dalam mem­per­tahankan aliran darah di daerah sam­bungan pada operasi rekon­struksi. Seba­gaimana artikel di atas di sam­bung seba­gai berikut:

Medicinal leeches are now making a comeback in microsur­gery. They provide an effective means to reduce blood coagulation, relieve venous pres­sure from pooling blood (venous insufficiency), and in recon­structive sur­gery to stimulate cir­culation in reat­tach­ment operations for organs with critical blood flow, such as eye lids, fingers, and ears.

Selain dalam dunia medis di Indonesia, ter­api dengan lin­tah juga disediakan melalui jalur pengobatan alter­natif. Karena dalam keseharian­nya, tidak banyak aplikasi medis yang meng­gunakan hewan yang satu ini. Ter­api ini umum­nya ditujukan untuk men­cegah dan meng­obati kelainan jan­tung dan pem­buluh darah, dalam beberapa prak­tek ada yang dikom­binasikan dengan pengobatan her­bal. Pen­derita yang diterapi seba­gaimana disebutkan oleh salah satu klinik alter­natif adalah:

Pen­derita masalah gang­guan jan­tung, Penyem­pitan / Penyum­batan pem­buluh darah jan­tung. sum­batan Ateros­klerosis, Jan­tung koroner, Jan­tung beng­kak, Lemah jan­tung, dan Jan­tung bocor

Apakah benar ter­api lin­tah bisa meng­obati kondisi-kondisi itu? Sebenar­nya apa sih yang menyebabkan lin­tah begitu ber­guna dan bahkan diper­caya? Ataukah keper­cayaan itu berlebihan?

Seperti yang telah disebutkan sebelum­nya, sifat antikoagulasi-nya yang begitu diper­lukan. Hmmm…, tunggu dulu, apa sih sifat anti koagulasi itu? Secara seder­hana sifat antikoagulasi bisa diter­jemahkan seba­gai anti pen­jen­delan darah atau anti pem­bekuan darah.

Secara nor­mal darah memiliki kemam­puan untuk menjendal/membeku secara alami. Semisal jika jari kita luka ter­tusuk jarum, maka dengan cepat darah yang tadinya keluar setelah ter­tusuk akan ber­henti dengan sen­dirinya, karena darah mampu mem­beku dan menutup area luka di pem­buluh darah dengan bekuan­nya. Ten­tunya hal ini melibatkan apa yang disebut seba­gai faktor-faktor pem­bekuan darah.

Prin­sip pem­bekuan darah ini mirip pada semua jenis hewan yang memiliki per­edaran darah ter­tutup, seperti pada ver­tebrata. Dan ini dikenal seba­gai haemostasis:

Hemos­tasis merupakan pris­tiwa peng­hen­tian per­darahan akibat putus­nya atau robek­nya pem­buluh darah, sedangkan throm­bosis ter­jadi ketika endothelium yang melapisi pem­buluh darah rusak atau hilang. Proses ini men­cakup pem­bekuan darah (koagulasi ) dan melibatkan pem­buluh darah, agregasi trom­bosit serta protein plasma baik yang menyebabkan pem­bekuan maupun yang melarutkan bekuan.

Saya petikan artikel ter­sebut dari sebuah sum­ber, untuk lebih leng­kap­nya meng­enai bagaimana pem­bekuan darah ini bekerja dan faktor-faktor apa saja yang ter­libat, silakan baca di sini.

Nah, si lin­tah memiliki sebuah zat pada kelen­jar saliva (ludah)-nya yang disebut hirudin yang ber­sifat antip­rotease poten dan sepsifik ter­hadap throm­bin (salah satu fak­tor pem­bekuan darah yang meng­ubah fibrinogen men­jadi benang-benang fibrin). Jadi ketika si lin­tah “meng­gigit” kor­ban­nya, ludah­nya akan masuk ke pem­beluh darah dan melepaskan hirudin yang menyebabkan throm­bin men­jadi “macet” dan darah pun men­jadi tidak mem­beku, sehingga si lin­tah bisa meng­hisap terus darah kor­ban­nya tanpa macet.

Jadi demikianlah meng­apa lin­tah dimanfaatkan.

Lalu meng­apa hal ini bisa diman­faatkan untuk pengobatan ber­ba­gai penyakit jan­tung? Ter­api alter­natif di Indonesia seba­gaimana yang saya sebutkan di atas mem­berikan pengobatan untuk ber­ba­gai penyakit jan­tung dengan lin­tah, apa benar bisa menyembuhkan?

Penyakit jan­tung koroner dan pem­buluh darah disebabkan secara umum oleh penyum­batan pem­buluh darah arteri atau pun koroner oleh plak aterum, disebabkan oleh penum­pukan koles­terol dan lemak pada din­ding pem­buluh darah, serta rusak­nya din­ding bagian dalam pem­buluh darah, dan mem­ben­tuk ber­ba­gai jaringan , pengapuran dan pem­bekuan darah.

Penyakit ini disebabkan oleh adanya penyem­pitan dan penyum­batan di pem­buluh arteri koroner. Hal ini disebabkan oleh penum­pukan zat-zat lemak (koles­terol, trigliserida) di din­ding pem­buluh nadi bagian paling bawah (endotelium). Setelah lemak menum­puk, aliran darah akan ter­sum­bat dan tak mampu menuju jan­tung sehingga meng­ganggu kerja jan­tung dalam memompa darah. Efek yang paling dirasakan adalah hilang­nya pasokan oksigen dan nutrisi menuju jan­tung karena aliran darah ke jan­tung berkurang.

Mung­kin hirudin difung­sikan seba­gai suatu bloodlet­ting (mem­biarkan darah meng­alir dengan lan­car), sehingga pem­bekuan darah salah satu fak­tor pem­ben­tukan plak dapat ditahan lajunya. Apakah ini menyem­buhkan? Saya tidak ber­kom­peten mem­benar­kan­nya, namun jika ditin­jau dari segi faktor-faktor penyebab jan­tung koroner sen­diri, yaitu:

  • Kadar Koles­terol Total dan LDL tinggi
  • Kadar Koles­terol HDL rendah
  • Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)
  • Merokok
  • Diabetes Mellitus
  • Kegemukan
  • Riwayat keturunan penyakit jan­tung dalam keluarga
  • Kurang olah raga
  • Stress

Tidak ditemukan fak­tor pem­bekuan darah sen­diri secara ber­makna dalam kasus jan­tung koroner. Jika menurut saya sen­diri, alang­kah bijak­sananya jika kita mulai menangani faktor-faktor di atas, seba­gaimana selalu ditekankan, sebaik apa pun metode pengobatan, maka pen­cegahan jauh lebih ideal. Meng­urangi merokok, meng­elola kadar gula dan koles­terol darah, men­jaga berat badan sehat seba­gaimana saya sebutkan sebelum­nya di 5 Cara Seder­hana Hidup Sehat akan sangat bermakna.

Kem­bali pada masalah peng­gunaan hirudin, memang bisa mem­bantu darah agar tidak mem­beku ketika melewat pem­buluh darah yang rusak oleh plak secara teori, dan ini mem­berikan sir­kulasi yang lebih baik.

Pada beberapa penelitian, hirudin dapat men­cegah kematian pada pen­derita dengan serangan jan­tung (miocard infar­ction) dan memiliki efek yang ham­pir mirip dengan heparin. Namun penelitian lebih lan­jut tetap diper­lukan seba­gaimana disebutkan di seloken.com:

Which should be used in preference; hirudin, or LMWH? The studies of hirudin have included over 22,000 patients, and there have been over 7,000 patients treated with enoxeparin. Both sets of studies show between 10% and 18% reduction in death/MI, the absolute reduction across the studies being vir­tually iden­tical (9.0% hirudin vs. 8.1% enoxeparin). So, fur­ther developments are awaited.

Namun saya tidak menelusuri apakah hirudin yang digunakan ber­asal dari lin­tah atau tidak, namun kemung­kinan besar zat hirudin ini didapat dari rekayasa DNA rekom­binan, seba­gaimana yang diberikan pada pasien-pasien yang men­jalani coronary angioplasty. Jadi ketika ter­api alter­natif dengan lin­tah secara manual untuk menolong pen­derita penyakit jan­tung, jangan heran jika dunia kedok­teran modern telah menerap­kan­nya dengan tek­nologi ter­kini guna men­dapatkan hirudin untuk men­cegah banyak kematian akibat serangan jan­tung tanpa meng­gunakan lintah.

Lalu bagaimana dengan fungsi untuk meng­obati jan­tung bocor? Apakah itu bisa membantu?

Jan­tung bocor sen­diri merupakan salah satu kon­disi kongenital (ter­jadi dari masa kan­dungan), sekat-sekat ruang jan­tung tidak menutup secara sem­purna dan menim­bulkan lubang antar sekat. Kon­disi inilah yang secara umum disebut seba­gai jan­tung bocor (coba klik tautan di atas untuk melihat artikel ten­tang penyebab jan­tung bocor).  Ketika saya mem­baca bahwa seseorang yang digigit lin­tah bisa sem­buh dari kon­disi jan­tung bocor ini, wah, terus terang saya ber­pikir ini kok konyol sekali.

Secara teori tidak ada kaitan­nya dengan jan­tung yang bocor bisa menutup kem­bali karena digigit lin­tah, atau pun memasukkan sejum­lah hirudin ke dalam vena pasien. Lha, jika tidak bisa sem­buh apa iklan pengobatan alter­natif seperti itu menipu dan menyesatkan?

Tunggu dulu, jangan buru-buru tiba pada sim­pulan itu, namun jangan juga buru-buru membantahnya.

Mereka dengan congenital heart disease, biasanya cen­derung men­derita trombosis.

Dalam sebuah jur­nal yang diter­bitkan oleh American Society of Hematology dengan judul New Anticoagulants in Children oleh Guy Young pada 2008, disebutkan seba­gai berikut:

Cen­tral venous catheters (CVC) are a major cause of throm­boem­bolic disease in children and thus children in inten­sive care units or those with malig­nan­cies and congenital heart disease account for a large propor­tion of those who develop thrombosis.

Jadi ada beberapa kategori penyebab ter­sering trom­bosis pada anak-anak, mereka dengan penyakit jan­tung bawaan adalah salah satunya. Jika kita men­cari dengan mesin pen­cari Google di inter­net, hasil­nya cukup banyak artikel dan jur­nal serupa.

Sedangkan penyakit jan­tung kongenital itu sen­diri sangat banyak jenis­nya. Mulai dari yang asianotik hingga yang sianotik. Secara seder­hana, saya sarankan untuk mem­baca di MedlinePlus lebih banyak meng­enai hal ini.

Pada prin­sip­nya, untuk men­cegah throm­bosis pada pasien dengan penyakit jan­tung bawaan (PJB), maka diper­lukan ter­api antikoagulan. Secara umum diberikan ter­api heparin yang lebih awal ditemukan. Kem­bali saya tam­pilkan cuplikan jur­nal yang sama untuk lebih mem­buat kita memahaminya:

Throm­bosis has been recog­nized in children for over 100 years;1 however, the first reports on the use of anticoagulants in children were not until much later. Heparin was discovered in 1916, human trials were con­ducted in 1935 and widesp­read human use began in 1937. The first repor­ted use of heparin in children appeared in a case report from 1954 in 2 children with caver­nous sinus throm­bosis.2 Coumarins were discovered in 1929 and war­farin was developed in 1948; however, it was not used as an anticoagulant until 1954. The first publication on war­farin use in children was in 1976, though the authors state their initial use in patients less than 18 was in 1962.3 Low-molecular-weight heparins (LMWH) were initially described in the 1970s and brought to clinical use in the 1980s. The widesp­read use of LMWH in children began in the 1990s.4 While the leech protein hirudin was discovered in 1884, it was not until the 1950s that its mechanism of action as a direct throm­bin inhibitor was discovered and not until 1997 that the recom­binant form, lepirudin, was app­roved in Europe (1998 in the US). The first report on the use of a direct throm­bin inhibitor (lepirudin) in children was in 1999.5 Fon­daparinux (initially called pen­tasaccharide) was first syn­thesized in 1985 and was app­roved in 2001. The first report on its use in a child was in 2004.6

Kemudian dalam per­kem­bangan­nya ditemukan kasus-kasus di mana ada pasien-pasien yang meng­alami HIT (Trom­bositopenia yang diin­duksi oleh heparin). Di mana nilai trom­bosit men­jadi turun dan jus­tru mening­katkan risiko trom­bosis. Jika hal ini ter­jadi, maka ter­pai heparin harus dihen­tikan dan diupayakan per­alihan ke peng­ham­bat trom­bin secara lang­sung (direct throm­bin inhibitor), dan dipilih hirudin. Ada beberapa sediaan salah satunya dikenal dengan Lepirudin.

Dari pen­jelasan di atas kita dapat sim­pulkan, bahwa ter­api antikoagulan pada pen­derita jan­tung bocor sesung­guh­nya ber­fungsi untuk men­cegah ter­jadi proses trom­bosis yang bisa meng­akibatkan banyak per­masalahan kesehatan lain­nya secara ber­an­tai. Namun hal ini tidak ber­arti menyem­buhkan kon­disi jan­tung bocor itu sendiri.

Jadi jika ada yang ber­tanya apakah ter­api lin­tah ber­man­faat pada pen­derita jan­tung bocor, ya…, secara teori bisa ber­man­faat. Tapi apakah ter­api ini bisa menyem­buhkan penyakit jan­tung bocor, hmmm…, saya rasa itu bukanlah ter­api yang bisa menyem­buhkan kon­disi ter­sebut. Namun harus kita ingat, jika seseorang sudah men­dapatkan ter­api antikoagulan dari pihak medis kemudian juga diterapi dengan lin­tah di pengobatan alter­natif, saya tidak menemukan apakah ada dam­pak buruk­nya. Namun antikoagulan ber­lebihan dalam tubuh seseorang jus­tru ber­bahaya secara umum, karena per­darahan sangat mudah ter­jadi, seperti pada kasus demam ber­darah (walau mekanis­menya ber­beda, pada demam ber­darah adalah kekurangan fak­tor koagulasi yaitu trom­bosit). Apakah bisa sam­pai separah itu atau tidak, saya belum menemukan jawabannya.

Selayak­nya kita bijak­sana, bahwa setiap tin­dakan pengobatan ada risikonya, bahkan dengan tek­nologi ter­baik sekali pun. Nah, apakah ter­api lin­tah ini sepenuh­nya aman?

Siapa saya yang berani men­jamin bahwa suatu ter­api sepenuh­nya aman. Namun alang­kah bijak­sananya jika kita. Kita mung­kin bertanya-tanya apakah tidak seperti nyamuk yang bisa men­jadi vek­tor (pem­bawa) ter­hadap penyebaran ber­ba­gai penyakit seperti demam ber­darah, malaria atau filariasis (penyakit kaki gajah), apakah ini mung­kin kerena mereka sama-sama meng­hisap darah dari orang ke orang?

Dalam sebuah jur­nal di PubMed meng­enai kemung­kinan lin­tah seba­gai vek­tor ber­ba­gai patogen (kuman) pada hewan dan manusia, menyim­pulkan bahwa dimung­kinkan seekor lin­tah men­jadi vek­tor pada banyak patogen, ter­utama di area endemik. yang dipublikasikan pada tahun 1994 ini meng­am­bil con­toh­nya adalah lin­tah Afrika yang ber­ada di Kameron. Ber­ikut adalah petikan abstraknya:

The presence and survival of pathogens inside the gut of leeches were studied by means of light and electron microscopy. In African leeches from Cameroon, blood was serologically positive for human immunodeficiency virus (HIV) and hepatitis B; blood of Hirudo medicinalis bought in German phar­macies con­tained up to 11 different species of bacteria. In experiments done at low (3 degrees C) and high (22 degrees, 32 degrees C) tem­peratures, it was shown that inges­ted red and white blood cells survive for long per­iods. The time was prolonged to at least 6 mon­ths in cases in which the leeches were stored at 3 degrees C. The same effect occur­red with pathogens. Bacteriophages (viruses of bacteria) and bacteria per­sis­ted in large num­bers for at least 6 mon­ths in the gut of experimen­tally infected leeches. Protozoan parasites such as Toxoplasma gon­dii, Trypanosoma brucei brucei, or Plas­modium ber­ghei were even capable of rep­roducing inside the gut of the leech. In the case of Plas­modium parasites, this proceeded at low (3 degrees C) and high (22 degrees C) tem­peratures until all erythrocytes were used up. These parasites survived as long as the erythrocytes and lym­phocytes were of good shape, i.e., around 5–6 weeks p.i. Single stages survived longer, especially at low tem­peratures. However, electron microscopy studies gave no hint of penetration of such pathogens into the unicellular salivary glands, which would initiate a direct trans­mis­sion. Such trans­mis­sion, however, is possible–many fish leeches directly trans­mit several blood parasites–when the leeches are squeezed during skin attach­ment or when they are manipulated by drop­ping salt solution on their backs while they are suc­king. Con­sequently, the leech is a poten­tial vector of many pathogens, especially in regions with an endemic spread of human and/or animal pathogens.

Namun dari yang disam­paikan, bahwa ten­tunya yang disediakan pada pusat ter­api alter­natif dinyatakan seba­gai lin­tah yang diter­nakkan dan ber­sih dari ber­ba­gai penyakit.

Saya senang jika ada banyak ter­api alter­natif yang ter­jang­kau oleh masyarakat luas, dan ber­man­faat bagi kesehatan kita. Setelah meng­etahui bagaimana sesung­guh­nya sebuah ter­api bisa ber­peran baik, apa keung­gulan­nya dan di mana letak kelemahan­nya, kita dapat secara bijak­sana menerapkannya.

Namun ingat sebuah ter­api sepenuh­nya men­jadi tang­gung jawab pasien. Karena hak penuh atas suatu ter­api ada di tangan pasien, apakah ia memilih atau tidak meng­gunakan ter­api ter­sebut. Jika seorang pasien menerima sebuah ter­api, maka dia sudah meng­etahui dan memahami man­faat serta risiko ter­api ter­sebut, sehingga secara sadar memilih ter­api ter­sebut untuk kesem­buhan­nya dan siap menerima risiko yang mung­kin atau pasti ditim­bulkan oleh ter­api tersebut.

Ah…, namun ngomong-ngomong, saya sebenar­nya agak rindu juga turun ke per­sawahan, ber­main di lum­pur atau di selokan kecil­nya yang masih asri, dengan beberapa lin­tah menem­pel di kaki seperti dulu. Sayang­nya…, tapi sekarang entah kenapa lin­tah dan belut serta banyak hewan per­sawahan yang dulu ada, kini sudah sangat langka, apakah ekosis­tem kita sudah begitu rusak? Mereka hanya banyak di lokasi peternakan.

  Copyright secured by Digip­rove © 2010

Anda diizinkan untuk berbagi (menyalin, mendistribusikan, mengubah bentuk) & mengadaptasi artikel blog ini baik sebagian atau pun keseluruhannya di bawah penggunaan lisensi yang sama (CCA-NC-SA 3.0 Unported) kecuali dinyatakan sebaliknya atau berbeda oleh penulis. Anda diwajibkan menyertakan sumber asli pada salinan dan adaptasi yang Anda karyakan berupa pranala berikut:

Diambil dari: Terapi Lintah – Sebuah Opini oleh Cahya.

3 Tanggapan

  • Anonymous menulis:
    via Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    Anda butuh lin­tah untuk pengobatan / ter­api? pengobatan tradisio­nal? atau Kos­metika?
    Kami mem­berikan layanan suplai lin­tah dalam jum­lah besar s/d 5000 ekor/mingguterapi hub kami 081385009663 087870529718

  • Ani widyastuti menulis:
    via Firefox 3.0.18 Firefox 3.0.18 pada Windows XP Windows XP

    Apakah ada resiko ter­tular penyakit dari lin­tah yang sudah digunakan untuk meng­obati pasien sebelumnya?

  • via Firefox 3.6 Firefox 3.6 pada Windows Vista Windows Vista

    Ani Widyas­tuti,

    Ada kemung­kinan, namun tidak selalu. Saya belum menelusuri jika ada penelitian ter­baru meng­enai masalah ini. Coba men­cari di PubMed atau BMJ, biasanya mereka memiliki koleksi jur­nal untuk isu-isu seperti ini.

Kirimkan sebuah Tanggapan

Surat elektronik anda tidak akan pernah dibagikan. Unsur yang wajib diisi ditandai *