Jika tidak salah, salah seorang sahabat baik saya akan memberikan mata kuliah mengenai asuhan pada bayi baru lahir pada minggu pertama atau kedua bulan depan. Dalam benak saya jika mendengar asuhan bayi baru lahir, saya jadi teringat pada “skor APGAR”, yang menjadi penilaian cepat pada kondisi bayi baru lahir dan menentukan tindakan penolong persalinan berikutnya.

Penilaian APGAR adalah sebuah tes cepat yang dilakukan pada menit pertama dan kelima pasca kelahiran, skor pada menit ke-1 memberi gambaran seberapa baik bayi melakukan toleransi terhadap proses kelahiran. Menit ke-5, skor memberikan penilaian akan bagaimana bayi beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Skor bernilai antara 1 sampai dengan 10, dengan nilai 10 memberikan gambaran bayi yang paling sehat.

Tes APGAR bisa dilakukan oleh dokter, bidan atau perawat yang menolong persalinan. Di mana ada lima komponen yang diperhatikan: upaya bernapas, denyut nadi, tonus otot, refleks dan warna kulit.

Berikut adalah peta pola kerja penilaian skor APGAR yang juga menunjukkan bahwa APGAR merupakan sebuah akronim yang terdiri dari Appearance, Pulse, Grimance, Activity dan Reaction yang merupakan komponen-komponen yang diperhatikan dalam penilaian skor APGAR.

APGAR

Tes ini merupakan alat untuk menentukan apakah bayi baru lahir memerlukan perhatian medis guna membatu stabilisasi fungsi jantung dan pernapasan, ataukah bayi cukup sehat tanpa perlu bantuan tersebut.

Nilai 8 atau 9 menandakan bayi baru lahir dalam kondisi yang baik. Nilai 10 jarang ada, karena hampir semua bayi kehilangan 1 poin oleh sebab tangan atau kaki yang berwarna biru/pucat, yang merupakan sesuatu yang wajar pada masa transisi kelahiran pasca kelahiran.

Jika skor yang dihasilkan di bawah 8, hal tersebut mengindikasikan bayi memerlukan bantuan. Skor di bawah 5 menandakan bayi baru lahir memerlukan bantuan sesegar mungkin guna beradaptasi dengan lingkungan barunya. Jika Anda pernah menonton film Bollywood “Three Idiots”, maka dalam skenario di mana mereka menolong persalinan, bayi yang baru lahir tersebut menunjukkan nilai APGAR yang rendah. Namun, bayi yang memiliki skor APGAR rendah di menit ke-1 dan nilai normal pada menit ke-5 biasanya tidak memiliki masalah-masalah jangka panjang.

Jika skor APGAR rendah dan intervensi medis seperti resusitasi mengalami kesulitan, maka skor APGAR dipantau kembali umumnya pada menit ke-10, 15 dan 20.

Tes APGAR ini hanya menilai apa yang bisa dilihat dan dirasakan oleh penolong persalinan, sehingga tidak memiliki risiko pada bayi baru lahir – tes ini dengan kata lain adalah tes yang aman bagi bayi.

Ada beberapa hal yang diduga menjadi penyebab nilai APGAR yang rendah pada bayi baru lahir, di antaranya adalah:

  • Persalinan yang terlalu cepat. Hipoksia (kekurangan oksigen) dapat terjadi pada persalinan yang terlalu cepat oleh karena kontraksi yang terlalu kuat atau trauma pada kepala bayi.
  • Terjerat tali pusat. Umum dikenal dengan “nuchal cord”, di mana tali pusat (plasenta/ari-ari) melilit pada leher janin (baik sekali waktu atau beberapa kali) dan mengganggu aliran darah, maka hipoksia bisa terjadi karena lilitan ini.
  • Prolaps tali pusat. Kondisi yang terjadi ketika tali pusat mendahului fetus keluar dari rahim. Kondisi ini adalah kedarutan obstetri yang membahayakan kehidupan janin. Namun prolaps tali pusat adalah kasus yang jarang. Ketika fetus juga akan ikut lahir, sering kali menekan tali pusat dan menimbulkan hipoksia.
  • Plasenta previa (placenta preavia). Merupakan kondisi kelainan obstretri di mana tali pusat terhubung pada dinding rahim yang letaknya dekat atau menutup leher rahim. Hal ini meningkatkan risiko perdarahan antepartum (vaginal), yang berujung juga pada hipoksia bagi janin.
  • Aspirasi mekonium. Jika mekonium di ada dalam paru-paru fetus, maka bisa terjadi permasalahan pernapasan. Hal ini dikenal juga sebagai “Sindrom Aspirasi Mekonium”.
  • Beberapa sebab lain bisa berupa obat-obatan yang dikonsumsi ibu sebelum persalinan, dan bayi preterm (prematur).

Karena nilai APGAR rendah bermakna kesulitan bayi baru lahir beradaptasi pada lingkungan barunya, sering kali penilaian yang menunjukkan skor APGAR rendah berkepanjangan dihubungkan dengan kemungkinan peningkatan komplikasi neurologis. Beberapa penelitian menduga ada keterkaitan skor APGAR rendah dengan kondisi psikologis dan kognitif anak di masa kemudian, seperti peningkatan risiko ADHD atau penurunan kemampuan kognitif.