Imunisasi dan vaksinasi adalah salah satu metode preventive medicine yang baru berkembang dalam 200 tahun terakhir ini, atau yang bisa kita sebut sebagai upaya pencegahan primer. Teknologi imunisasi dan vaksinasi dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjamin keamanan penggunaan, tapi apakah absolut aman, tentu saja tidak sesempurna itu – sama halnya dengan menyadari tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sehingga hal ini sering kali menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat.

Mungkin imunisasi dan vaksinasi sering diartikan sama, meski ada sedikit perbedaannya. Imunisasi adalah transfer antibodi secara pasif, sedangkan vaksinasi merupakan upaya pemberian antigen (vaksin) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem kekebalan tubuh kita.

Vaksinasi Hepatitis B | PPDictionary

Vaksin dibuat sedemikian rupa sehingga tidak membuat sakit, namun mampu mengaktivasi sistem pertahanan tubuh. Dapat kita katakan vaksinasi memberikan “infeksi ringan” yang tidak berbahaya namun cukup untuk menyiapkan respons kekebalan, sehingga diharapkan jika anak terserang oleh penyakit yang sesungguhnya di kemudian hari, maka tidak akan menjadi sakit karena tubuhnya dengan cepat mengenali penyakit dan membentuk antibodi untuk membunuh penyakit itu.

Tentu saja kekebalan yang diperoleh ini dapat dibawa seumur hidupnya, meski ada beberapa kekebalan yang akan menurun setelah melewati jangka waktu tertentu, atau memerlukan pacuan (booster) untuk mencapai kekebalan yang diperhitungkan dapat melindungi hingga usia tua. Dan vaksinasi dianjurkan juga karena murah dan efektif, meski harus disadari bahwa tidak melindungi hingga 100%.

Kita bisa berkata bahwa vaksinasi tidak berbahaya, dapat saja terjadi kejadian yang serius namun sangat jarang terjadi, dan jauh lebih jarang daripada komplikasi yang timbul apabila terserang penyakit tersebut melalui jalur alami.

Pun demikian keraguan tetap berkembang di masyarakat, apalagi begitu banyaknya berkembang miskonsepsi terhadap vaksinasi, jika saya boleh menyebutnya konsep berlawanan dari pandangan dunia medis yang disebarkan oleh mereka yang memiliki sudut pandang anti-vaksinasi. Apakah terdengar berlebihan? Namun jika kita menelusuri, kelompok atau komunitas anti-vaksinasi itu ada, meski bukan berarti sebuah kelompok atau organisasi nyata.

Orang tua bisa dengan mudah khawatir dengan vaksinasi, semisalnya saja jika tidak mendapatkan penjelasan yang mencukupi bahwa vaksinasi akan memberikan efek “infeksi ringan” (menirukan kejadian sakit alami) yang tidak berbahaya, sehingga bila muncul reaksi sekecil apapun, orang tua akan merasa khawatir.

Sementara bukan hal yang baru jika menemukan orang tua yang ragu atau bahkan menolak vaksinasi dengan pelbagai alasan. Mungkin hal ini dikarenakan pandangan religi, filsafat tertentu, ataupun anggapan bahwa vaksinasi hanyalah intervensi pemerintah, tidak alami bahkan hanya bertujuan menguntungkan pihak pengembang vaksin saja. Alasan lain adalah masalah keraguan atau keyakinan bahwa vaksin tidak aman dan sama sekali tidak efektif, dan/atau penyakit yang dicegah melalui vaksinasi sebenarnya tidak berbahaya bagi kesehatan.

Beberapa kesalahpahaman yang menyebabkan orang-orang menolak imunisasi mungkin bisa sedikit saya ulaskan.

Ada yang berkata bahwa penyakit telah menghilang sebelum vaksinasi diperkenalkan dikarenakan perbaikan sanitasi dan hidup higienis. Memang benar kemajuan pengetahuan medis kedokteran tentang sanitasi dan hidup higienis adalah kunci mengurangi penyakit, nutrisi yang baik serta ditemukannya antibiotik telah meningkatkan angka harapan hidup. Namun penurunan angka permanen kejadian penyakit baru ada setelah imunisasi diterapkan.

Negara maju seperti Inggris, Swedia dan Jepang pernah mengalami lonjakan penyakit pasca penghentian program imunisasi karena kekhawatiran efek samping vaksin. Imunisasi dan pola hidup sehat telah menjadi bagian yang holistis dari sistem pencegahan penyakit pada dewasa ini.

Miskonsepsi lainnya adalah pendapat atau rumor yang menyatakan bahwa mayoritas anak sakit sudah mendapat vaksinasi. Pendapat ini sering muncul di kalangan kelompok anti-vaksin. Jika kita melihat, pada kasus-kasus KLB, maka jumlah anak yang sakit pada kelompok yang telah mendapatkan vaksin “bisa jadi” lebih banyak daripada kelompok yang belum/tidak mendapatkan vaksin.

Hal ini bisa direfleksikan kembali melalui dua faktor berikut:

  1. Tidak ada vaksin yang efektif 100%. Supaya aman, maka bakteri/virus dimatikan/dilemahkan terlebih dahulu. Efektivitasnya bisa mencapai 85% – 95% tergantung pada respons imun masing-masing individu (anak).
  2. Tentunya pada negara-negara yang telah menerapkan imunisasi, jumlah anak yang mendapatkan imunisasi lebih banyak daripada anak yang tidak mendapatkan imunisasi.

Ketakutan juga dapat muncul dari pendapat yang menyatakan bahwa vaksin menimbulkan efek samping yang berbahaya, kesakitan bahkan kematian. Namun  sebagaimana yang disepakati para ahli kesehatan, vaksin adalah produk yang (sangat) aman. Hampir semua efek samping vaksin bersifat ringan. Adapun kejadian sakit pasca imunisasi (KIPI), maka prevalensi dan jenis sakit yang tercantum di dalamnya tentu saja dengan sendirinya hampir sama dengan prevalensi dan jenis sakit yang ada dalam keadaan sehari-hari tanpa imunisasi.

Risiko vaksinasi selayaknya dibandingkan dengan besar manfaat, pengkajian dan fakta lapangan menunjukkan bahwa penyakit lebih banyak menimbulkan komplikasi maupun kematian pada anak dibandingkan imunisasi.

Kemudian pendapat yang menyatakan bahwa penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin sudah tidak ada lagi di negara kita, sehingga anak tidak perlu diimunisasi juga menimbulkan penolakan imunisasi. Namun walau di negara kita tidak ada penyakitnya, bukan berarti tidak bisa terbawa ke negara kita dari tempat lainnya. Sebagai contoh mungkin Anda masih ingat pada KLB polio tahun 2005, padahal sebelumnya Indonesia sudah tidak ada kasus polio liar sejak tahun 1995. Kasus ini pada awalnya dikonfirmasi ada pada anak usia 18 bulan yang menderita lumpuh layu akut yang tidak pernah diimunisasi polio. Jadi apakah kita akan mengambil risiko tidak mengikuti imunisasi karena pendapat ini?

Pernah dipublikasikan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme, sebuah gangguan kelainan perkembangan kronis yang ditandai dengan gangguan interaksi, komunikasi serta perhatian dan aktivitas yang repetitif (berulang-ulang) dan restriktif (terbatas). Hal ini sempat menghebohkan tidak hanya kalangan masyarakat umum, namun juga klinisi, karena dirilis oleh kalangan akademisi – dr. Andrew Wakefield dkk dari Royal Free Hospital (London, 1993). Penelitian ini menduga bahwa vaksin MMR dapat menyababkan IBD (sejenis sindroma peradangan usus besar) yang mengarah pada penurunan kemampuan tubuh dalam menyerap makanan (vitamin dan nutrisi esensial), yang selanjutnya menimbulkan autisme.

Namun dalam pengkajian lebih lanjut oleh banyak ahli, penelitian ini dianggap tidak menunjukkan hubungan kausatif yang bisa dibuktikan berdasarkan seri kasus yang digunakan untuk penelitian. Dan penelitian terhadap vaksin MMR tidak membuktikan adanya mekanisme tersebut. Hal ini telah disimpulkan pada tahun 1998 tentang tidak adanya hubungan antara vaksin campak dan autisme oleh para pakar kedokteran Inggris, WHO dan Internasional.

Masih berbicara tentang autisme, kandungan thimerosal (dikenal juga dengan thiomersal) sempat diberitakan dapat menyebabkan gangguan perkembangan pada anak. Thimerosal adalah pengawet vaksin yang mengandung etilmerkuri, suatu senyawa organik yang jika mengalami metabolisme akan menjadi merkuri. Thimerosal sendiri mengandung sekitar 49,6% merkuri, dan berfungsi dalam mencegah kontaminasi bakteri dan jamur pada vaksin multidosis, dan telah digunakan sejak tahun 1930-an.

Dalam pelbagai kajian, jumlah yang merkuri yang masuk ke dalam tubuh melalui vaksin masih dinyatakan dalam rentang normal (dapat ditoleransi), dan penelitian-penelitian skala besar yang melibatkan vaksin dengan thimerosal menunjukkan tidak terbukti bahwa paparan thimerosal menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan saraf maupun psikologis.

Di Amerika pada tahun 1999, telah dihimbau bahwa produsen vaksin sebaiknya mengurangi kadar atau menghilangkan sama sekali thimerosal dalam produknya. Dan pada tahun 2000 telah diluncurkan vaksin hepatitis B yang tidak mengandung thimerosal.

Sedangkan di Indonesia sendiri terdapat beberapa miskonsepsi yang cukup umum, misalnya pendapat yang menyatakan bahwa jika anak tidak demam setelah divaksinasi, maka berarti vaksinnya tidak bekerja. Atau yang mengatakan bahwa setelah imunisasi vaksin polio oral, bayi tidak boleh minum ASI selama beberapa jam.

Kontroversi masalah imunisasi tidak hanya ada pada dampaknya, namun juga pada pelaksanaannya yang sudah terjadi sejak awal masa pelaksanaan vaksinasi. Dan mungkin aktivitas penentang vaksinasi ini agak menjengkelkan banyak pihak karena bergerilya di media maya untuk memicu isu-isu anti-vaksinasi dengan bukti-bukti ilmiah sensasional namun tidak pada tingkat EBM yang rendah (tidak tepercaya). Sehingga cenderung menimbulkan keresahan dibandingkan edukasi (pendidikan) kesehatan bagi masyarakat itu sendiri.

Misalnya dengan melontarkan isu bahwa negara merampas hak mereka untuk tidak memilih imunisasi karena imunisasi diwajibkan oleh negara. Namun apa ini berarti mereka menuntut hak untuk dapat jatuh sakit parah, dan berhak menjadi sumber penularan penyakit ke orang lain?

Di Indonesia sendiri ada UU no.4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular yang memberikan sanksi pada siapapun yang melalaikan atau menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah. Jadi semisalnya pada pelaksanaan imunisasi polio masal tahun 2005, terdapat ancaman sanksi hukum bagi orang tua yang menolak anaknya diimunisasi polio, dengan ancaman penjara maksimal satu tahun.

Namun saya rasa ancaman hukum bukanlah sesuatu yang semestinya membuat kita bergerak untuk memilih langkah demi kesehatan anak-anak kita dan generasi penerus. Namun adanya kesadaran untuk arah yang lebih baik ini. Jika memang ada keraguan atau pertentangan, silakan dikonsultasikan pada dokter atau ahli kesehatan yang memiliki kompetensinya, jangan turut melempar isu yang justru menciptakan kekhawatiran, apalagi jika tujuannya hanya sekadar mencari sensasi.

Jika Anda menemukan ada masalah pada pelaksanaan imunisasi/vaksinasi di sekitar anda, laporkan pada dinas kesehatan setempat. Sehingga bisa dilakukan pengkajian dan pembenahan ke arah yang lebih baik.

Untuk diskusi lebih lanjut tentang pelbagai isu dan informasi tentang imunisasi di Indonesia, silakan bergabung dengan kelompok Facebook GESAMUN (Gerakan Sadar Imunisasi). Anda dapat bertanya atau berbagi pengalaman seputar imunisasi di sini: https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/.