Kata alopecia sendiri dalam dunia kedokteran bermakna secara umum untuk menyebut (kondisi) kebotakan. Ketika rambut tiba-tiba rontok (biasanya pada kulit kepala), mungkin saja itu adalah alopecia areata. Biasanya bentuknya terlokalisir pada sebuah atau lebih area yang umumnya membentuk lingkaran kulit kepala yang bersih dari rambut, dan tidak ada tanda-tanda kelainan spesifik lain yang tampak kasat mata, termasuk tidak nyeri ataupun gatal. Jika ada kelainan lain yang tampak, mungkin saja itu bukan alopecia areata.

Tentu saja ada sejumlah jenis alopecia areata, namun semua adalah kondisi yang didapatkan dan tidak bersifat menular. Kadang selain pada kulit kepala, mengenai juga rambut pada daerah lain yang lebih jarang terjadi atau disadari, seperti pada bulu dan alis mata, rambut pubis (sekitar kemaluan), atau rambut di lipatan ketiak.

Umumnya jarang terjadi pada usia sebelum 3 tahun, meski bisa terjadi pada semua usia. Dan paling sering pada anak-anak usia 5-12 tahun, atau pada dewasa usia antara 30 sampai 60 tahun.

Alopecia Areata

Meski lebih sering hanya mempengaruhi area tertentu pada kulit kepala, namun dapat terjadi (meskipun jarang) seseorang akan kehilangan rambut pada seluruh kepalanya (alopecia areata totalis) atau pada seluruh tubuh (alopecia areata universalis).

Penyebab alopecia areata tidak diketahui secara jelas, namun setidaknya sejumlah hipotesis menunjukkan antara kondisi imunitas (autoimunitas) serta keturunan memiliki kemungkinan terlibat di dalam proses terjadinya.

Kecurigaan karena faktor keturunan disebabkan oleh ditemukannya frekuensi munculnya alopecia areata cenderung lebih tinggi pada keluarga yang memiliki riwayat serupa. Beberapa penelitian genetika sedang dilangsungkan untuk menemukan hubungan genetik munculnya kondisi ini pada seseorang – terutama penelitian yang terfokus pada human leukocyte antigen dan gen interleukin 1 receptor agonist.

Hipotesis yang paling didukung adalah kondisi autoimun yang menyebabkan terjadinya alopecia areata. Proses alopecia areata tampaknya dimediasi oleh sel-T, dan antibodi yang diarahkan menuju struktur folikel (akar) rambut juga sering ditemukan. Sehingga diduga, sistem pertahanan tubuh kita sendiri telah menyerang folikel rambut dan mengganggu pertumbuhan rambut normal. Karena hal ini, alopecia areata sering dihubungkan dengan kondisi autoimun lainnya seperti kelainan alergi, penyakit tiroid, vitiligo, lupus, artritis reumatoid dan kolitis ulseratif.

Diagnosis alopecia areata umumnya sangat mudah, karena karakteristiknya yang khas. Pun demikian alopecia areata masih memiliki sejumlah diagnosis banding lainnya seperti alopecia andorgenetic, psudopelade, syphilis, telogen effluvium, tinea capitis, atau trichotillomania. Dan jika diagnosis dan kecurigaan alopecia areata masih belum bisa dipastikan, pemeriksaan biopsi mungkin akan disarankan, namun sangat jarang sampai diperlukan.

Ada kecenderungan di mana kondisi alopecia areata akan sembuh secara spontan, sehingga terapi/pengobatan tidaklah selalu dimandatkan. Dan secara umum, alopecia areata saat ini bukanlah suatu kondisi yang dapat disembuhkan, namun dapat diobati sedemikian hingga membantu rambut tumbuh kembali.

Pilihan terapi untuk alopecia areata yang umum adalah menggunakan kortikosteroid, obat anti-peradangan yang diresepkan untuk penyakit autoimun. Bentuknya bisa beragam, bisa melalui suntikan, pil, atau krim. Respons terapinya akan memerlukan waktu bertahap. Obat lain yang mungkin digunakan adalah rogaine (minoxidil), biasanya akan memerlukan waktu sekitar 12 minggu sebelum rambut mulai tumbuh, dan hasil terapinya bisa jadi mengecewakan.

Karena alopecia areata tidak dapat diprediksi kemunculannya, serta kondisi yang memperburuknya. Kondisi ini tidak selalu bisa kembali dengan sendirinya, bahkan mungkin berkembang ke arah bentuk totalis atau universalis.

Temui dokter atau spesialis kulit dan kelamin untuk mendapatkan informasi, penjelasan dan bantuan lebih lanjut jika Anda mengalami kondisi ini. Dan karena alopecia areata juga bisa memunculkan isu psikososial akibat stres psikologis pada penampilan yang ditimbulkan, seseorang mungkin akan mengalami fobia sosial, kecemasan, atau depresi, berkonsultasi dengan psikiater dapat membantu Anda mengatasi situasi ini jika mengalaminya.